Senin, 12 Desember 2011

Model-Model Pembelajaran


Berbagai jenis Model Pembelajaran perlu dipahami guru atau fasilitator untuk merancang pembelajaran yang mengasyikkan, menyenangkan dan menggerakkan aktivitas siswa.  Sekarang ini guru wajib memposisikan diri sebagai fasilitator, bukan sebagai pengajar yang selalu menyuapi anak didiknya dengan pengetahuan. Guru harus tanggap dengan situasi kelasnya sehingga perlu menerapkan berbagai strategi dalam membelajarkan siswanya. Naah pada edisi kali ini saya akan mencoba menguraikan 3 model pembelajaran dengan langkah-langkah praktisnya. Namun model-model ini perlu dikembangkan atau dimodifikasi sesuai dengan keadaan peserta didik, sumber belajar dan mata pelajaran yang diajarkan.

Model Reading Guide
Langkah-langkah:
  1. Tentukan Bacaan yangakan dipelajari siswa 
  2. Buat pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab atau kisi-kisi untuk mengerjakan permasalahan berdasarkan bacaan yang telah ditentukan. 
  3. Bagikan Bahan bacaan dengan pertanyaan atau kisi-kisi yang telah disiapkan kepada para siswa 
  4. Tugas siswa yaitu mempelajari bacaan kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan atau memecahkan permasalahan berdasarkan kisi-kisi yang ada. 
  5. Kegiatan menjawab pertanyaan atau kisi-kisi bisa secara individual, atau kelompok 
  6. Batasi aktivitas siswa sehingga tidak memakan waktu yang berlebihan 
  7. Bahaslah secara bersama-sama contoh jawaban atau pekerjaan dari siswa. 
  8. Berikan ulasan dan kesimpulan 
  9. Topik untuk satu pertemuan dapat dibagi menjadi beberapa bacaan dengan pertanyaan atau kisi-kisi masing-masing.
Model Question Student Have

Langkah-Langkahnya:
  1. Bagikan potongan-potongan kertas atau semacam kartu untuk menyusun pertanyaan
  2. Mintalah siswa untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang berkaitan dengan topik atau materi pelajaran
  3. Setelah semua selesai membuat pertanyaan, masing-masing siswa diminta untuk memberikan kepada teman disamping kirinya, terus memutar/menggeser sampai semua menerima pertanyaan.
  4. Masing-masing siswa yang telah menerima pertanyaan diminta membaca pertanyaan. Jika pertanyaan itu ingin diketahuinya maka ia harus memberikan tanda chek list (v). Pertanyaan-pertanyaan tadi baik yang dicentang maupun yang tidak dikembalikan kepada teman sipembuat pertanyaan.
  5. Para siswa yang pertanyaannya mendapat tanda centang diminta untuk membaca agar siswa yang lain mendengarkan (caranya dapat di urut dari depan atau terserah teknisnya
  6. Berikan respon atau jawaban dari masing-masing pertanyaan atau beri   kesempatan kepada siswa yang membuat pertanyaan itu untuk menjawab, begitu  seterusnya sesuai dengan waktu jam pelajaran yang tersedia
  7. Kumpulkan semua pertanyaan yang dibuat siswa tadi, mungkin bisa dibahas pada   pertemuan berikutnya atau dapat dipergunakan guru saat melakukan evaluasi   atau uji kompetensi.
     
Model Group Resume

Langkah-Langkahnya: 
  1. Bagilah Siswa menjadi beberapa kelompok kecil 
  2. Berikan permasalahan atau bahan bacaan pada setiap kelompok. Bagikan pula
  3. kertas (kalau bisa seukuran koran), transparasi dan alat tulisnya. 
  4. Setiap kelompok membahas dan memecahkan permasalahan yang diterima, dan
  5. kemudian membuat resume di atas kertas/transparasi yang telah dibagikan. 
  6. Masing-masing kelompok diminta mempresentasikan, dan kelompok lain menanggapi. 
  7. Berikan respon dan kesimpulan dari materi yang dikaji.
 Selamat mencoba....

Metode Pembelajaran Discussion Starter Story


Metode Pembelajaran Discussion Starter Story. Keterlibatan siswa dalam aktivitas belajar adalah kunci utama dalam mencapai tujuan belajar sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku. Tidak ada belajar tanpa adanya aktivitas. Menurut Frobel dalam Sardiman, (2007:96) Secara alamiah anak mempunyai dorongan untuk mencipta sehingga dalam belajar anak harus bekerja secara mandiri bereksplorasi dan menggali informasi belajar. 

Dalam dnamika kehidupan manusia berfikir dan berbuat merupakan suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Begitu juga dalam belajarsudah tentu tidak bisa meninggalkan dua kegiatan itu, berfikir dan berbuat. Seseorang yang telah berhenti berfikir dan berbuat diragukan eksistensi kemanusiaannya. Hal ini sekaligus menjadi hambatan dalam proses pendidikan yang bertujuan memanusiakan manusia.

Montessori juga menegaskan bahwa anak-anak memiliki tenaga-tenaga untuk berkembang sendiri dan membentuk diri sendiri. Pendidik akan berperan sebagai pembimbing dan mengamati bagaimana perkembangan anak didiknya. Pernyataan Montessori ini memberikan petunjuk bahwa yang lebih banyak melakukan aktivitas di dalam pembentukan diri adalah anak itu sendiri sedangkan pendidik memberikan bimbingan dan merencanakan segala kegiatan yang akan dierbuat anak didik (Sardiman, 2007:97).

Menurut Usman, (2005:74) aktivitas belajar merupakan serangkaian kegiatan fisik dan mental yang mencakup: aktivitas visual (membaca, menulis, bereksperimen, demonstrasi), aktivitas verbal (bercerita, bertanya, membaca sajak, diskusi, menyanyi), aktivitas mendengarkan seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan), aktivitas gerak (senam, menari, melukis) dan aktivitas menulis (mengarang cerita, membuat makalah, membuat surat, membuat resume). Menurut Rianto & Dhari, (1994) agar siswa terlibat aktif, diperlukan keterlibatan secara terpadu, berkeseimbangan dan berkesinambungan dari berbagai macam hal yaitu mengarah pada interaksi yang optimal, menuntut berbagai jenis aktivitas peserta didik, strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan menggunakan berbagai macam variasi media, alat peraga.

Paham belajar aktif Siberman (2000) memberikan gambaran tingkatan aktivitas belajar dengan mengembangkan filsafat Konfosius, yaitu (1) Apa yang saya dengar saya lupa, (2) Apa yang saya dengar dan saya lihat, saya ingat sedikit, (3) Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman saya mulai paham, (4) Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, (5) Apa yang saya ajarkan kepada orang lain saya kuasai.

Berdasarkan beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa adalah keterlibatan siswa dalam pembelajaran Sosiologi yang meliputi (a) Keterlibatan dalam diskusi kelompok, (b) Aktivitas bertanya kepada guru dan kepada sesama siswa, (c) Aktivitas menjawab pertanyaan guru dan siswa lainnya, (d) Keberanian Mengungkapkan pendapat.

Metode Mengajar Diskusi

Diskusi adalah percakapan ilmiah yang responsif berisikan pertukaran pendapat yang dijalin dengan pertanyaan-pertanyaan problematis pemunculan ide-ide ataupun pendapat yang dilakukan beberapa orang yang tergabung dalam kelompok dan diarahkan untuk memperoleh pemecahan masalah. Dalam Diskusi selalu ada suatu pokok yang dibicarakan. Manfaat diskusi dalam kegiatan belajar antara lain sebagai berikut: (1) peserta didik memperoleh kesempatan untuk berfikir; (2) peserta didik dapat berlatih mengeluarkan pendapat, ide, gagasan dan aspirasinya secara bebas; (3) peserta didik belajar bersikap toleran terhadap perbedaan pendapat; (4) Diskusi dapat menumbuhkan partisipasi aktif di kalangan siswa; (5) Diskusi dapat mengembangkan sikap demokratis dapat menghargai pendapat orang lain; (6) pelajaran menjadi lebih relevan dengan kebutuhan siswa (Sagala, 2005:208). Selanjutnya Sagala menjelaskan selain mempunyai manfaat, metode diskusi juga memiliki beberapa kelemahan antara lain (1) kadang-kadang kegiatan diskusi menyita waktu sehingga dapat mengganggu pelajaran lain; (2) kadang-kadang guru tidak memahami cara-cara melaksanakan diskusi maka kecenderungannya diskusi hanya menjadi kegiatan tanya jawab.

Di dalam ranah pendekatan kontekstual, kegiatan diskusi menjadi unsur penting, mengingat salah satu pilar pembelajaran kontekstual adalah masyarakat belajar. Masyarakat belajar adalah istilah yang berhubungan dengan proses kerjasama dalam mencapai tujuan belajar. Konsep ini menyarankan bahwa untuk mencapai tujuan belajar diperlukan kerjasama, sharing dan diskusi baik dengan sesama siswa. Melalui pendekatan kontekstual guru disarankan membentuk kelompok-kelompok belajar (Depdiknas, 2003).

Teknik Pembelajaran Discussion Starter Story

Teknik pembelajaran Discusion starter story merupakan salah satu teknik pembelajaran berbasis diskusi yang sangat baik diterapkan pada materi-materi yang dikemas dalam masalah-masalah nyata yang banyak terjadi dalam lingkungan siswa. Teknik ini memberikan informasi tentang masalah tertentu kepada peserta didik sehingga dengan informasi tersebut dapat mereka kenal, memahami dan dianalisis secara mendalam sehingga dapat ditemukan alternatif pemecahan masalah tersebut. Bahan belajar dapat diangkat dari bahan bacaan atau dari pengalaman langsung di lapangan (Sudjana, 2007:116). Selanjutnya Sudjana menguraikan langkah-langkah pembelajaran menggunakan teknik discussion Starter Story sebagai berikut:
  1. Guru menyiapkan bahan belajar berupa kasus/masalah sesuai dengan tujuan belajar yangtelah dirumuskan.
  2. Guru memberikan penjelasan kepada siswa mengenai kegiatan belajar yang akan dilakukan 
  3. Guru membentuk kelompok-kelompok kecil, masing-masing kelompok kemudian menentukan pimpinan diskusi, notulen dan peserta
  4. Guru membagikan bahan belajar berupa permasalahan yang akan didiskusikan kepada semua kelompok.
  5. Masing-masing kelompok berdiskusi dan memecahkan permasalahan yang ada dengan menggali informasi dari sumber belajar yang tersedia.
  6. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar yang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah pembelajaran.
  7. Setelah diskusi kelompok kecil selesai, kemudian masing-masing kelompok diminta mempresentasikan hasil kerja kelompok kecil dalam diskusi kelas.
  8. Guru meminta salah satu siswa untuk merangkum hasil diskusi melncakup masalah yang didiskusikan dan alternatif pemecahannya.
  9. Guru dan siswa menyimpulkan materi pembelajaran.

Menciptakan Pembelajaran Menyenangkan dengan Teknik Puzzle Concept


Proses belajar menyenangkan adalah kunci sukses menuju keberhasilan. Gordon dan Jeanette Vos mengungkapkan ”belajar akan efektif jika anda dalam keadaan fun”. Kunci proses pembelajaran yang baik adalah dengan mengorkestrasikan enam faktor berikut:

  1. Menciptakan kondisi terbaik untuk belajar;
  2. Presentasi yang melibatkan seluruh indera, relaks, menyenangkan, bervariasi, cepat, menggairahkan;
  3. Berfikir aktif dan kreatif;
  4. Merangsang akses materi belajar dengan permainan, lakon pendek, praktik dan melibatkan gerak badan;
  5. Mengasosiasikan pengetahuan dengan dunia nyata;
  6. Melakukan peninjauan ulang atau evaluasi secara teratur (Gordon Dryden dan Jeanette Vos, 2004: 301).
Gordon Dryden dan Jeanette Vos selanjutnya menjelaskan bahwa agar kondisi belajar tercipta dengan baik langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:
  1. Mengorkestrasikan lingkungan belajar. Ruangan kelas harus nyaman, bersih, indah, rapih dengan berbagai hiasan dinding, poster berwarna, slogan, bunga-bunga dan poster-poster yang merangsang minat. Seluruh atmosfer belajar haruslah bersahabat dan menyenangkan.
  2. Menyiapkan suasana yang kondusif dan mencuri perhatian siswa dengan menciptakan iklim belajar yang menyenangkan. Imajinasi, kejutan dan tantangan sangat baik untuk mencuri perhatian siswa.
  3. Mengkondisikan otak kanan dan otak kiri dalam keadaan rileks dengan permainan untuk merangsang komunikasi otak kanan dan otak kiri. Permainan akan lebih efektif dengan melibatkan gerak badan. Philip Cassone (pelatih sistem belajar cepat) sering memulai presentasi dengan permainan human bingo. Cappeli (guru dari Asutralia) sering meminta siswanya untuk saling memijat otot leher dan bahu untuk relaksasi sambil bernyanyi.
  4. Menambah kegiatan belajar dengan alunan musik. Alunan musik dalam tempo lambat misalnya jenis musik klasik dapat menciptakan keadaan belajar optimum ditandai dengan detak jantung, kecepatan nafas, dan gelombang otak berirama secara sinkron, tubuh menjadi rileks, tetapi pikiran terkosentrasi dan siap menerima informasi baru.
  5. Menghilangkan stigma negatif dari proses belajar. Ada tiga stigma buruk dalam belajar yang harus dihilangkan yaitu: (1) stigma kritis logis, adalah anggapa bahea sekolah itu tidak mudah, belajar itu sesuatu yang tidak menyenangkan (2) stigma intuitif-emosional adalah anggapan bahwa saya ini bodoh, saya tidak bisa melakukannya,” (3) stigma kritis moral adalah anggapan bahwa belajar adalah bekerja keras.
  6. Siswa memahami target dan tujuan belajar
  7. Merangsang emosi siswa dengan kelembutan dan kasih sayang dari guru
Teknik pembelajaran Puzzle concept merupakan modifikasi dari metode mind mapping yang dikembangkan oleh Tony Buzan. Mind mapping adalah metode mencatat dan menyimpulkan fakta, konsep dan contoh materi pembelajaran yang dituangkan dalam organisasi konsep menggunakan citra visual, simbol, pewarnaan dan melibatkan imajinasi (DePotter, 2005:153). Prosedur pelaksanaan teknik pembelajaran puzzle concept adalah sebagai berikut:
  1. Guru membuat organisasi konsep dan kartu konsep dari materi pembelajaran yang dipelajari. Organisasi konsep dibuat dalam kertas dobel folio dan kartu konsep dibuat dalam potongan kertas kecil-kecil. Beberapa bagian dari organisasi konsep dikosongkan.
  2. Siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil terdiri dari 4-5 siswa, masing-masing kelompok dibagikan bahan ajar dan organisasi konsep yang belum dilengkapi.
  3. Siswa diberi penjelasan mengenai kegiatan belajar yang akan dilakukan. Tugas masing-masing kelompok adalah melengkapi bagian-bagian bagian organisasi konsep yang masih kosong dengan kartu-kartu informasi sehingga menjadi organisasi konsep yang lengkap dan utuh.
  4. Kegiatan melengkapi peta konsep akan dilombakan. Kelompok yang paling cepat memasangkan kartu konsep secara tepat mendapatkan skor paling tinggi.
  5. Setelah semua organisasi konsep berhasil dilengkapi guru kemudian memberikan penjelasan dari masing-masing konsep.
  6. Guru menyimpulkan materi pembelajaran.

Mengenal lebih dekat Pendekatan Pembelajaran SAVI


Hello all friends netter ... greetings of peace to us all….biar blogg yang masih bayi ini agak komplit tiap labelnya, saya posting lagi nich…jika postingan terdahulu kita mbahas model pembelajaran kelompok,  maka  edisi kali ini kita akan coba mbahas pendekatan pembelajaran SAPI. Eeeeeee. SAVI maksudnya. Pendekatan pembelajaran ini mulai ngetrend sejak mas Dave Meier,Bobbi De Porter, and Mike Hernacki menerbitkan buku-buku keren seperti quantum Learning dan The accelerated Learning. Bagi ente-ente yang profesinya guru,pendidik,atau praktisi pendidikan lainnya buku-buku itu mestinya wajib menjadi pegangan. Apalagi bagi ente-ente yang udah punya sertifikat profesi.  Malu donk kalau sampe liat sampul bukunya aja belon.

Well let's discuss what Learning approach it SAVI….Pembelajaran SAVI itu akronim dari SOMATIS,AUDITORI,VISUAL,INTELEKTUAL.  Maksudnya cara-cara belajar yang mengoptimalkan aspek somatis (gerak), auditori (pendengaran), visual (penglihatan) dan intelektual (pikiran).  Keempat aspek tersebut digabung, dipadukan dan yang terpenting dioptimalkan ketika seseorang melakukan proses belajar. Lalu siapa yang mengoptimalkan? Tentu saja si pembelajar sendiri, atau fasilitator belajar misalnya guru, tutor, instruktur dan yang sejenisnya.

Pendekatan belajar ini didasari oleh fakta bahwa setiap orang memiliki gaya berfikir dan gaya belajar yang berbeda-beda.  Sebagian kita dapat belajar dengan baik hanya dengan melihat orang lain melakukannya.  Biasanya orang-orang seperti ini menyukai penyajian informasi yang runtut.  Mereka lebih suka menuliskan apa yang dikatakan fasilitator dan tidak terganggu oleh kebisingan.  Pola belajar demikian disebut gaya belajar visual.  Disisi lain banyak pula pelajar yang mengandalkan kemampuan mendengar untuk mengingat dan tidak sedikit siswa yang memiliki cara belajar paling efektif dengan terlibat langsung dengan kegiatan.
Menurut Silberman (2006:28) hanya sedikit siswa yang memiliki satu jenis cara belajar.  Berdasarkan hasil penelitian dari setiap 30 siswa 22 diantaranya dapat belajar dengan sangat efektif selama gurunya menghadirkan kegiatan belajar yang berupa kombinasi antara visual-auditorial-kinestetik.  Namun 8 siswa lainnya hanya menyukai satu bentuk cara pembelajaran sehingga mereka kesulitan memahami pelajaran jika metode penyampainnya tidak sesuai dengan gaya belajar mereka.  Guna memenuhi kebutuhan ini pembelajaran harus bersifat multisensori dan penuh dengan variasi.
Sementara itu John Dewey menegaskan bahwa sekolah harus dijadikan tempat kerja.  Ia menganjurkan metode proyek dan  problem solving harus banyak diterapkan dalam sistem pembelajaran.  Ia mempopulerkan istilah  Learning By Doing.  Deporter (2005:117) menjelaskan bahwa belajar berdasarkan aktivitas secara umum jauh lebih efektif daripada didasarkan presentasi, materi dan media.  Alasannya adalah cara belajar berdasar aktivitas mengajak siswa terlibat sepenuhnya.  Telah terbukti di banyak penelitian bahwa orang belajar dengan lebih baik dari berbagai aktivitas dan pengalaman yang dipilih dengan tepat daripada mereka belajar dengan duduk didepan penceramah, buku panduan, televisi atau komputer.
Namun pembelajaran tidak akan meningkat secara otomatis dengan menyuruh siswa berdiri dan bergerak kesana kemari.  Pembelajaran yang baik adalah dengan menggabungkan gerakan fisik, dengan aktivitas berfikir (intelektual) dan penggunaan semua inder  (pendengaran) dan penglihatan (visual).  Pendekatan belajar demikian menurut Meier disebut pendekatan SAVI (Somatik, Auditori, Visual, Intelektual).  Keempat unsur tersebut harus berjalan sinergis, terpadu dan simultan.
Dave Maier memberikan penjelasan mengenai pendekatan pembelajaran SAVI sebagai berikut:
a)      Belajar somatis.  Somatis berasal dari Bahasa Yunani “soma” yang berarti tubuh.  Jadi belajar somatis berarti belajar dengan indera peraba, kinestetis, praktis melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh ketika belajar.  Penelitian neurologis telah membongkar keyakinan kebudayaan barat yang keliru bahwa pikiran dan tubuh adalah entitas yang terpisah.  Temuan penelitian menyimpulkan bahwa pikiran tersebar di seluruh tubuh.  Intinya tubuh adalah pikiran dan pikiran adalah tubuh.  Keduanya merupakan sistem kimiawi-biologis yang terpadu.  Jadi dengan menghalangi pembelajar somatis menggunakan tubuh mereka sepenuhnya dalam belajar maka kita menghalangi fungsi pikiran mereka sepenuhnya.  Untuk merangsang hubungan pikiran-tubuh guru perlu menciptakan suasana belajar yang dapat membuat orang bangkit dan berdiri dari tempat duduk dan aktif secara fisik dari waktu ke waktu.  Tidak semua pembelajaran memerlukan aktivitas fisik, tetapi dengan berganti-ganti menjalankan aktivitas belajar aktif dan pasif secara fisik kita dapat membantu pembelajaran siswa dengan baik.
b)      Belajar Auditori.  Pikiran auditori kita lebih kuat daripada yang kita sadari.  Telinga kita menangkap dan menyimpan informasi auditori bahkan tanpa kita sadari.  Dalam merancang pembelajaran yang menarik bagi saluran auditori yang kuat dalam diri siswa carilah cara untuk mengajak mereka membicarakan apa yang sedang mereka pelajari.  Minta mereka menterjemahkan pengalaman mereka dengan suara.  Mintalah mereka membaca keras-keras, ajaklah mereka berbicara saat mereka memecahkan masalah, membuat model, mengumpulkan informasi, membuat rencana kerja, menguasai keteramipilan, membuat tinjauan pengalaman belajar atau memperhatikan penjelasan dari sumber-sumber belajar.
c)      Belajar visual. Pembelajar visual akan lebih mudah belajar jika dapat melihat apa yang dibicarakan seorang penceramah, buku atau program komputer.  Pembelajar visual belajar dengan baik jika mereka dapat melihat contoh dari dunia nyata, diagram, peta gagasan, ikon, gambar, dan gambaran dari segala macam hal ketika mereka sedang belajar.  Bahkan mereka dapat belajar secara optimal dengan menciptakan peta gagasan, diagram, ikon, dan beberapa image dari yang mereka pelajari.  Pembelajar dewasa juga lebih mudah belajar jika menciptakan piktogram, ikon, atau pajangan tiga dimensi dan bentuk visual lain dari materi yang dipelajari.  Teknik lain yang bisa dilakukan untuk semua orang dengan keterampilan visual yang kuat adalah dengan meminta mereka mengamati situasi dunia nyata lalu memikirkan situasi itu, menggambarkan proses, prinsip atau makna yang dicontohkannya.
d)      Belajar intelektual.  Intelektual adalah pencipta makna dalam pikiran, sarana yang digunakan manusia untuk berfikir, menyatukan pengalaman, menciptakan hubungan, makna, rencana dan nilai-nilai dari hubungan tersebut.  Intelektual adalah bagian diri yang merenung, mencipta, memecahkan masalah dan membangun makna.  Intelektual adalah pencipta makna dalam pikiran, sarana yang digunakan manusia untuk berfikir, menyatukan pengalaman, menciptakan jaringan syaraf baru dan belajar.  Intelektual menghubungan pengalaman mental, fisik, emosional, dan intuitif tubuh untuk membuat makna baru bagi dirinya sendiri. 

Kamis, 08 Desember 2011

Download Juknis KTSP


Juknis KTSP adalah pedoman yang diterbitkan kementrian Depdiknas sebagai panduan tiap satuan pendidikan (sekolah) dalam mendesain Kurikulum. Jadi sekolah diberi kewenangan sangat luas untuk melakukan perencanaan, penyusunan dan pelaksanaan kurikulum. Boleh dibilang pemberlakuan KTSP adalah upaya desentralisasi pendidikan dengan tujuan pemberdayaan dan pengembangan potensi lokal. Maksudnya gimana ya bro...koq muter-muter.... Begini, dengan KTSP tiap satuan pendidikan atau sekolah diberi keleluasaan memasukkan unsur life skill dalam kurikulum sekolah. Perwujudannya melalui program pengembangan diri dan pendidikan muatan lokal. Melalui kegiatan pengembangan diri sekolah memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan minat, bakat, dan potensinya. Demikian pula dengan mata pelajaran muatan lokal, sekolah satu dengan lainnya bisa berbeda-beda jenis mulok-nya.


Pemberlakuan KTSP pada dasarnya upaya mengikuti kebutuhan pendidikan, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi. Paradigma pendidikan selalu mengalami pergeseran tentunya kan? Ukuran keberhasilan sekolah kan hakekatnya bukan nilai diatas raport atau ujian saja, namun lebih luas yaitu terbentuknya sikap, keterampilan, pengetahuan dan kemampuan peserta didik untuk mandiri ketika dewasa.

Lalu bagaimana cara mendesain dan menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan? waduuuuh untuk pertanyaan yang satu ini jawabannya tentu gak bakal cukup lewat postingan bro... soalnya saya liat guru-guru di republik ini aja masih banyak yang belum mudeng padahal pemerintah sudah menggelontorkan dana untuk pelatihan KTSP udah ratusan milyar (maaf ya pak guru dan bu guru....). Naaah lebih jelasnya sampean-sampean yang membutuhkan download aja juknisnya, saya kasih semuanya tinggal pilih. semua juga boleh. berikut saya buat daftarnya juknis KTSP 2010:

Juknis analisis Standar isi      DOWNLOAD DISINI
Juknis analisis Standar Kompetensi Lulusan      DOWNLOAD DISINI
Juknis analisis Standar Proses       DOWNLOAD DISINI
Juknis analisis Standar Penilaian        DOWNLOAD DISINI
Juknis analisis Standar Pengelolaan         DOWNLOAD DISINI
Juknis analisis Standar Sarana dan Prasarana     DOWNLOAD DISINI
Juknis analisis kondisi satuan pendidikan        DOWNLOAD DISINI
Juknis analisis lingkungan eksternal      DOWNLOAD DISINI
Juknis Pengembangan KTSP       DOWNLOAD DISINI
Juknis Pengembangan muatan lokal         DOWNLOAD DISINI
Juknis Pengembangan diri layanan konseling     DOWNLOAD DISINI
Juknis Pengembangan diri ekstra kurikuler     DOWNLOAD DISINI
Juknis Pengembangan Silabus      DOWNLOAD DISINI
Juknis Pengembangan RPP      DOWNLOAD DISINI
Juknis Pengembangan Bahan Ajar       DOWNLOAD DISINI
Juknis rancangan remidi dan pengayaan      DOWNLOAD DISINI
Juknis pembelajaran TM, PT, dan KMTT       DOWNLOAD DISINI
Juknis Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa      DOWNLOAD DISINI

oke dech bosss, sampai disini dulu ya ntar kita sambung dalam postingan berikutnya, semoga bermanfaat,akhirnya saya memohon sudilah sobat-sobat mengeklik iklan-iklan yang tertera di blok ini. demi menjaga kelangsungan hidup blogg ini. heee..heee... jadi kan simbiosis mutualisme gitu lhoe....

POS dan JUKNIS UN Tahun 2011


POS UN dan JUKNIS UN Tahun 2011 Silahkan Di DOWNLOAD

Petunjuk Operasional Ujian Nasional tahun 2011 sudah diterbitkan Kemendiknas. Itu pertanda genderang Perang mulai ditabuh,para siswa, guru dan orang tua ayo semua berjibaku sukseskan UN tahun 2011. Mudah-mudahan UN tahun ini penyelenggaraanya lebih baik dari tahun kemarin. Maksudnya baik, ya makin jujur, kelulusannya meningkat, terus aturan-aturan yang dibuat ya jangan dilanggar.

Khusus untuk para pejabat-pejabat didaerah, tolong donk... Ujian nasional tahun 2011 ini jangan dipolitisasi kayak PSSI. Kita-kita rakyat jelata ini udah muak ngelihat tingkah polah para politisi dan pejabat yang selalu mempolitisir isu dan moment-moment, bahkan rakyat yang masih sengsara terkena bencana-pun tidak luput dari politisasi. Terus anggaran untuk sekolah kalau memang ada ya segera dikasihin pak, jangan sampai ujian udah selesai setengah tahun anggaran baru diterima sekolah.Kan kasihan penyelenggara UN di tingkat disekolah.


Oke dech bagi bapak-bapak Ibu guru, kepala sekolah dan para ibunda yang anaknya akan mengikuti ujian nasional 2011, siapa tau ada yang belum memiliki Petunjuk Operasional Standar Ujian nasional tahun 2011 saya dengan senang hati menyedikan informasi tersebut untuk sampean semuanya. Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat. Saya doakan anak-anak kita semua sukses mengikuti Ujian Nasional. Silahkan download informasi yang dibutuhkan di bawah ini.


Permendiknas nomor 46 tahun 2010 tentang ujian nasional tahun 2011
DOWNLOAD DISINI


Prosedur Operasional Standar (POS) UN tahun 2011
DOWNLOAD DISINI

  Kisi-kisi soal ujian nasional tahun 2011
DOWNLOAD DISINI

Permendiknas no 45 th 2010 tentangKriteria Kelulusan ujian nasional tahun 2011
DOWNLOAD DISINI

SOAL TRY OUT UN 2011 SD,SMP,SMA



Soal Try Out Ujian Nasional 2011 SD,SMP,SMA teman-teman bisa download disini.

Setelah kemendiknas menerbitkan POS UN tahun 2011 ayo semua siap-siap singsingkan lengan baju untuk bertempur di Ujian Nasional tahun 2011 yang rencananya akan diselenggarakan di bulan April 2011. Untuk lulus ujian bisa teman-teman baca di permendiknas no 45 tentang kelulusan ujian. Bagi yang ikut ujian tentu pingin lulus dengan nilai baik khan...? saya akan berikan kunci lulus dengan nilai baik yang pertama, pelajari dulu kisi-kisi soal atau panduan penyusunan soal UN yang telah diterbitkan kemendiknas.

Kedua mempelajari ahan-bahan untuk ujian jangan model SKS ya... maksudnya Sistem Kebut Semalem, tapi secara rutin dan berangsur. Ketiga pelajari juga soal-soal tahun kemarin karena paling tidak bisa kita jadikan acuan. Keempat pelajari soal-soal prediksi UN tahun 2011 yang disusun berdasarkan kisi-kisi soal ujian nasional.  Nah untuk yang terakhir teman-teman bisa download disini. silahkan pilih sesuai dengan jenjang pendidikan dan jurusan masing.masing. Mohon maaf untuk teman-temanku yang butuh soal try out SMK sabar ya... lagi tak cariin. dokumen soal nanti dalam bentuk winzip, jadi harus diekstrak terlebih dulu.


SMP

Soal Try OUT UN SMP (Bhs Ina, Bhs Inggris,Matematika,IPA)

SMA

Soal Try Out UN SMA Program IPA

Soal Try Out UN SMA Program IPS

Soal Try Out UN SMA Program bahasa