Kamis, 03 November 2011


BABAD ALAS LEBAKSUNGSANG DESA KEDOKANBUNDER




SUMUR KERAMAT (SUMUR GEDE) NYIMAS RA KAWUNGANTEN



PETILASAN NYI MAS RA KAWUNGAN

Bila kita meninjau secara umum perkernbangan Islam sejak masa Rasulullah hingga Abada ke 15 H ini mengalami 4 periode :
1.   Periode Hasa Rasullullah hingga masa Al-Khalifatul Rasyidin
2.   Periode masa daulat muawiyah sampai daulat Abasiya
3.   Periode kemunduran masa daulat Mukholiyah sampai abad ke 14 H
4.   Periode kebangkitan mulai abad 15 H sampai sekarang
Dengan mengetahui perkembangan Islam para pembaca dan pecinta ilmu pengetahuan diharapkan menyadari bahwa Islam senantiasa bertumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan jaman.
Menurut babad Cirebon pada tahun 1420 M, ditanah Cirebon ada seorang guru ulama besar yang terkenal yaitu Syech Nurjati (Syech Idhofi) berasal dari negeri Bagahad (Irak). Akan tetapi penyebaran Islam di wilayah Cirebon Meluas melalui syech Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Sedang masa itu di wilayah jawa barat bagian utara ada suatu hutan yang bernama HUTAN LEBAK SUNGSANG.


MENGENAL NAMA
DESA KEDOKANBUNDER


Bagi para pembaca mungkin sudah banyak yang tak asing lagi mendengar nama kedokanbunder, disamping itu ternyata timbul beberapa pertanyaan antara lain.
1.   Apa kedokan bunder itu ?
2.   Bagaimana asal usul kedokanbunder ?
3.   Mengapa dikatakan kedokanbunder ?
Maka dengan itu saya mencoba menjawabnva dengan uraian sebagai berikut :
·       Kedokanbunder adalah nama sebuah kampung yang letaknya berbatasan dengan Kabupaten Cirebon.
·       Kedokanbunder termasuk ibu kota kecamatan kedokanbunder kabupaten Indramayu Propinsi Jawa Barat.



BABAD HUTAN LEBAK SUNGSANG
DESA KEDOKANBUNDER

Al kisah berangkat dari cerita kanjeng Sunan Gunung Jati dengan istrinya Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten sedang bermusyawarah memikirkan mimipi dan bisikan Ghoib, yang pada intinya disuruh membuka pedukuhan di Hutan Lebak Sungsang (Jawa : Alas Lebak Sungsang). Maka Sunan Gunung Jati memanggil Pangeran Pager Toya dan mertuanya Ramanda Tubagus Warida dan pamannya Tubagus Arsitem beserta Anaknya Ratu Winaon, Sultan Hasanuddin dan para pengawalnya sebanyak 60 orang untuk mengiring keberangkatan istrinya Sunan Gunung Jati (Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten) menuju Wilayah Hutan Lebak Sungsang (Alas Lebak Sungsang). Sunan Gunung Jati merestui atas keberangkatannya dengan mengendarai dua kapal layar besar.
Singkat cerita, rombongan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten tiba di diwilayah Muara Ciasem dengan tujuan mencari perbekalan dan air minum, serta menanyakan keberadaan wilayah Hutan Lebak Sungsang. Akan tapi di daerah Ciasem tidak ada seorangpun yang tahu keberadaan Hutan Lebak Sungsang maka rombongan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten melanjutkan perjalananya dengan berlayar menuju ke Wilayah Cirebon. Di tengah perjalanan rombongan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten singgah di sebuah pulau yang bernama Pulau Gosong, di situ terdapat seorang kakek-kakek yang sedang menjemur rebon (udang kecil) dan terdapat sebuah Candi setelah didekati. Pangeran Pager Toya bertanya kepada Kakek itu dan beliau menyebutkan nama yaitu Ki Kriyan. Karena Ki Kriyan menghuni pulau tersbut maka Candi yang ada dipulau Gosong itu dinamanakan Candi Kriyan.
Setelah mengetahui keberadaan pulau tersebut Pangeran Pager Toya menanyakan keberadaan wilayah Hutan Lebak Sungsang. Maka Ki Kriyan menjawab “Hutan Lebak Sungsang ada di bekas aliran Bengawan Cigalaga Sangyang Kendit” Kata Ki Kriyan berlayarlah menuju tegalan panjang dan luas. Setelah mendapat petunjuk dari seorang kakek penghuni pulau Gosong maka rombongan Nyi Mas Ratu ayu Kawunganten melanjutkan perjalannya menuju tegalan yang panjang dan luas. Sesampainya di tegalan tersebut maka rombongan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menelusuri bekas bengawan Cigalaga menuju Hutan Lebak Sungsang. Tegalan panjang dan luas tersebut sekarang menjadi sebuah Desa di pinggiran laut yang bernama Desa Tegalagung.
Rombongan berjalan ke barat menuju bekas aliran Bengawan Cigalaga. Setelah menelusuri ke arah barat dari tegalan panjang dan luas maka sampailah di bekas aliran bengawan Cigalaga yang masih banyak airnya dan pohon­-pohon yang besar serta tanahnya rendah, berbukit dan masih banyak binatang buas yang minum dan mandi disitu. Maka Nyi Mas Ratu Kawunganten mencari tanah yang lebih tinggi untuk membangun gubuk untuk beristirahat para pengikutnya.
Setelah beristirahat beberapa hari mulailah para pengikut dan pengawalnya membabad (menebang) pohon-pohon yang besar yang ada di wilayah hutan Lebak sungsang pada tahun 1497. Satu pohon ditebang oleh 10 orang dalam sehari tidak bisa tumbang karena sangat besarnya pohon tersebut. Hampir satu bulan pengikut dan pengawal membabad (menebang) hutan lebak sungsang baru bisa membentuk lahan beberapa puluh meter, belum lagi anak buahnya beliau banyak yang mati dan luka diterkam binatang buas. Belum lagi harus bertempur dengan penghuni hutan tersebut yaitu dua makhluk siluman yang bernama Dewa Arus dan Dewi Santi yang berwujud seekor ular Raksasa maka Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten bertafakur (bersemedi) kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi kemudahan dalam membabad (menebang) Hutan Lebak Sungsang tersebut.
Dalam tafakumya (semedi) ada suara tanpa rupa (bisikan Ghoib) yang memerintahkan agar Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten menanjabkan Tusuk Kondenya (Kancing Gelung) pada sebatang kayu bebsar yang telah roboh. Berkat kemurahan Tuhan yang Maha Esa maka terbakarlah pohon besar itu. Nyala api yang membungbung membakar seluruh Hutan Lebak Sungsang, semua hewan berlarian dan tidak sedikti yang mati terbakar serta banyak hutan-hutan di daerah lain yang ikut terbakar, diantaranya sekarang disebut Desa Jambe, Desa Bulak, Desa Tugu dan Desa Eretan. itu hasil pembakaran hutan hutan lebak sungsang yang apinya berterbangan.
Dalam kurun waktu satu tahun semua hutan pohon-Pohon yang besar sudah rata dengan tanah. Selesai membakar dan mebabad hutan tersebut maka dipanggilnya paman Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten yaitu Tubagus Arsitem dan 10 orang pengikutnya untuk melaporkan kepada suaminya (Syech Sarif Hidayatullah) bahwa tugasnya telah selesai untuk membuka pedukuhan baru di wilayah hutan Lebak sungsang dan dimohon Sunan Bonang untuk ikut menyaksikan daerah yang baru dibuka itu.
Sunan Bonang bersedia datang di pedukuhan lebak sungsang ikut dengan rombongan Mbah Kuwu Sangkan Cirebon dan Sunan Kali Jaga. Sesampainya rombongan di Pedukuhan Lebak Sungsang, Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten merasa seneng kurang bunga (gembira tapi merasa sedih). Karena kedatangan rombongan tidak beserta suaminya, dikarenakan suaminya memenuhi undangan Sultan Mesir.
Sunan Bonang merasa bangga atas kegigihan dan kesaktian beliau dengan Pusaka Tusuk Konde yang bisa mengeluarkan api dan membakar semua hutan yang ada disekelilingnya. Sebagai tanda jasanya (penghargaan) Sunan Bonang memeberikan gelar kepada Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten dengan sebutan RATU SUNEU (bahasa Indonesia : Ratu Api).
Atas saran Mbah Kuwu Cirebon untuk segera membangun gubug yang besar untuk tempat kediamanya dan anak-anaknya serta pengikutnya. Maka dibangunlah 4 gubug besar.
1.   Untuk Nyi Mas R.A Kawunagnten dan keluarganya
2.   Untuk Mbah Kuwu sangkan dan Pager Toya
3.   Untuk Ayah dan Pamannya
4.   Untuk pengawal dan pengikutnya
Selang beberapa bulan beliau meminta agar segera ditetapkan daerah yang telah di buka menjadi pedukuhan untuk diberi patok (batas). Maka berangkatlah Ki Kuwu Sangkan, Sunan Bonang dan Pangeran Pager Toya menuju batas wilayah Lebak Sungsang. Ki Kuwu Sangkan berjalan menujuh arah selatan dan Pangeran Pager Toya mengambil arah ke utara sedangkan Sunan Bonang meninjau bekas-bekas hutan yang terbakar di daerah lain.
Setelah selesai mengelilingi dan memberi batas-batas (patok) wilayah Lebak Sungsang, Pangeran Pager Toya beristirahat di bawah pohon kedawung dekat dengan gubug Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten sekitar seratur meter sebelah barat dan beliau mengubur ikat kepalanya di bawa pohon kedawung itu (sekarang disebut petilasan Ki Dawung yang masih di anggap keramat).
Sedangkan Ki Kuwu Sangkan setelah selesai mengadakan pemberian batas (patok) beristirahatlah di barongan pring (pohon bambu) yang sangat banyak yang di sekelilingnya ditumbuhi pohon pandan dan Ki Kuwu Sangkan duduk di atas sebuah batu. Untuk mengenang jasa Ki Kuwu Sangkan maka tempat duduk tesebut dikubur dan dinamakan Petilasan Ki Sela Pandan (batu pandan) yang masih dianggap keramat sampai sekarang (tepatnya berada di sebelah selatan lapang bola Kedokanbunder) dalam mengelilingi batas-batas pedukuhan tersebut. Pada tahun 1499 dan inilah yang menjadi dasar Hari Jadi Desa Kedokanbunder. Setiap tahunnya di adakan ider bumi (keliling tanah), setelah mengadakan ider bumi para penduduk mengadakan syukuran dengan menyediakan makanan dan hasil bumi (Wulu Wetu = Sansekerta) berupa beras, jagung, kacang-kacangan dan buah-­buahan yang disebut sedekah bumi yang terus dilestarikan dan dilaksanakan setiap tahun di bulan Surah tanggal 14. sampai sekarang masih tetp diadakan sedekah bumi setiap tahunnya.
Setelah itu Ki Kuwu Sangkan dan Pangeran Pager Toga juag Sunan Bonang pulang kembali ke Cirebon. Sedangkan yang masih tinggal dipedukuhan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten adalah Ratu Winaon, Sultan Hasanuddin, Tubagus Warida dan Tubagus Aritem serta 40 orang pengikutnya.
Banyak orang yang berdatangan ke Padukuhuan Lebak Sungsang. Kebanyakan orang yang datang ingin bercocok tanam dan mendirikan gubug sebagai tempat bermukim. Namun ada persyaratan yang harus dipenuhi yaitu syaratnya harus memeluk agama Islam. Orang-orang yang datang ke Padukuhan Lebak Sungsang dari berbagai daerah diantaranya dari cirebon, keturunan arab, keturunan India, keturunan Cina, bawean karimun jawa dari bagelen dan juga dari Demak.
Setelah banyak orang yang berdatangan, Pedukuhan Lebak Sungsang dilanda kekeringan, Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten sangat perihatin dan sedih hatinya melihat penduduk kekurangan air. Segala reka daya (usaha) belum juga membuahkan berhasil untuk menanggulangi kekeringan yang melanda Padukuhan Lebak Sungsang. Bukan hanya tanaman yang menjadi korban keganasan kekeringan itu bahkan sampai binatang dan jiwa manusia pun tidak sedikit yang menjadi korban kekeringan tersebut. Maka beliau bersama sanak saudaranya, bapak dan pamannya tetap tabah dan berdoa kepada Allah SWT. Dalam doanya beliau mendapat bisikan ghoib agar menancapkan tusuk kondenya (kancing gelung) ke tanah yang lebih rendah maka ditancapkannya pusaka beliau dengan ijin Tuhan, maka keluarlah air yang sangat deras (sumber air). Karena sangat derasnya air longsorlah tanah disekitarnya. Untuk menahan sumber air tersebut jangan sampai tertutup kembali maka dipasanglah tembok penahan longsor dengan menggunakan balok-balok kayu yang besar. Amanat Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten kepada rakyatnya agar sumber air tadi dijaga dan dilestarikan agar anak cucunya tidak lagi kekurangan air, sumber air tersebut diberi nama dengan sebutan SUMUR GEDE (sampai sekarang masih terawat dan masih dikeramatkan). Air tersebut oleh penduduk Lebak Sungsang dimanfaatkan untuk minum, berwudhu, mandi dan keperluan cocok tanam.
Kesaktian belaiu sangat termasyur (terkenal) sampai ke Negeri Campa dan banyak negara-negara lain yang ingin mengayoni (mengukur) kehebatan beliau. Maka pada suatu hari datanglah seorang Putra Raja Campa yang bernarna JIOU PHAK dan dua orang pengawalnya JIAU GO dan Qi Pa Lhiang serta 40 orang prajuritnya yang bertujuan untuk meminang beliau, tapi beliau menolak karena sudah mempunyai suami. Putra Campa tetap memaksa kehendaknya untuk meminangnya namun Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten tetap pada pendirian, maka terjadila peperangan dan uji kesaktian antara Jiou Phak dan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten. Dalam perkelahian tersebut Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten hampir terkalahkan baik kekuatan tenaga dan kesaktianya oleh Putra Campa tersebut.
Ki Kuwu Sangkan mengetahui bahwa di Pedukuhan Lebak Sungsang tengah terjadi peperangan antara Putra Raja Campa seprajuritnya dan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten pengawal dan pengikutnya maka Ki Kuwu Sangkan datang Ke Pedukuhan Lebak Sungsang dan meberikan Golok Cabang kepada Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten. Golok Cabang lalu disabetkan ke tanah oleh beliau maka Jiou Phak langsung terjatuh terduduk (Jawa = Kedodok) dan sekarat. Bekas sekaratnya itu sampai bundar (jawa = bunder). Untuk mengenang pertempuran Putra Campa yang kalah terduduk bundar akhirnya tempat itu dinamakan KEDOKANBUNDER (Asal kata  terduduk=Kedodok dan Bundar=Bunder). Yang pada semula namanya Pendukuhan Lebak Sungsang akhirnya diganti menjadi KEDOKANBUNDER.
Dalam peperangan itu Putra Campa sampai dengan menghembuskan nafas terakhirnya dan dikuburkan di tanah yang agak tinggi yang sampai sekarang masih bisa kita lihat kuburannya di sebelah timur lapang bola Desa Kedokanbunder, sedangkan para prajuritnya yang masih hidup enggan pulang ke negeri Campa akan tetapi menyerah dan mengabdi di Pedukuhan Kedokanbunder sampai akhir ayatnya. Putra Campa yang bernama Jiau Go kuburannya masih bisa kita lihat di blok lor Cilengkong yang disebut Petilasan Ki Jago.
Akhirnya beliau memerintah padukuhan dan mensyiarkan Islam dengan penuh kesabaran, Ketawakalan. Hingga pada suatu hari beliau sakit, makin hari sakitnya semakin bertambah parah, orang-orang pun berdatangan dari tiap pelosok. Masing-masing ingin tahu sakit yang dideritanya. selain daripada itu mereka mengharapkan doa dan keberkaanya hingga rumah beliau penuh dengan pengikut- pengikutnya.
Pada saat beliau akan meninggal, beliau sempat menyuruh putra-putrinya mendekati seraya berkata : "Anak isun lan para pengikut isun kabeh terutama, turutana perintae Gusti Allah Ian perintae Wong tuamu sing wis lairaken ira Ian gedeaken ira Ian muliaken tamu kang teka ning umae ira lan ngomonga sing bener, melakua ning tujuan aja nganti keder, dadia menusa aja dadi uwong.Sebab lamon dadi wong-wongan mung diwedeni ning manuk"
(Arti kata dalam bahsa Indonesia : Khususnya anak saya beserta para pengikutku semuanya, turutilah perintahnya Allah SWT dan perintah orang tuamu yang telah melahirkan kamu dan membesarkan kamu dan muliakan tamu yang datang di rumah kamu dan berbicaralah dengan baik dan benar, berjalanlah pada tujuan jangan sampai tersesat, jadilah manusia jangan sampai jadi orang-orangan yang hanya ditakuti oleh burung)


Pada tahun 1561 beliau wafat dan tersebarlah berita kemana-mana, para pengikutnya baik yang dekat maupun yang jauh datang ke Padukuhan Kedokanbunder dengan penuh rasa duka dan disertai cucuran air mata. Karena orang yang dicintai telah tiada. Setiap orang terus berdatangan menziarahi makam beliau sambil memperlihatkan kecintaan dengan membacakan puji-pujian dan bacaan-bacaan untuk mendo’akan beliau.
Kesemuanya itu di tunjukkan kepada beliau (Nyi Mas Rata Ayu Kawunganten) sebagai tanda penghormatan dan mengenang akan keteladanan dan kebijaksanaannya. Beliau dipanggil sang Kholik pada tahun 1561 dan kepemimpinan pedukuhan juga syiar Islam ditersukan oleh anak cucu dari keturunannya. Kebiasaan-kebiasan yang dulu seperti IDER BUMI (Keliling Wilayah), SEDEKAH BUMI (Syukuran) tetap dilaksanakan tiap tahun hingga sekarang. Dan setelah pedukuhan-pedukuhan lain ada penghuninya maka pimpinan pedukuhan Kedokanbander mengundang masyarakat yang ada di pedukuan lain untuk berkunjung ke pedukuan Kedokanbander dalam rangka untuk ikut IDER BUMI dan sedekah bumi serta doa bersama untuk mendoakan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten. Kedatangan masyarakat dari pedukuhan lain yang datang berkunjung ke Pedukuhan Kedokanbunder pada saat itulah disebut Acara NGUNJUNG/UNJUNGAN yang artinya KUNJUNGAN dan acara adat tersebut masih tetap dilaksanakan serta dilestarian sampai sekarang. Sumber air yang disebut SUMUR GEDE juga setiap acara UNJUNGAN rame dikunjungi oleh orang untuk mengambil air dari sumur tersebut sebagai tumbal tanaman di sawah/ladang dan sebagai penyembuhan penyakit (Allahu Alam).
Atas Ketekunan juru kunci, yang semula Situs Kuburan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten berupa gubug ilalang sedikit demi sedikit terus mengalami pemugaran/perbaikan sampai sekarang. Maka dari itu kepada generasi penerus peliharalah dan lestarikanlah peninggalan nenek-moyang kita.




SIL-SILAH
NYI MAS RATU AYU KAWUNGANTEN
KEDOKANBUNDER 
SAKA DOMAS


KI GEDENG JAROH ANTE
TUBAGUS WARIDAH


TUBAGUS WARIDAH
SUMBER:

1.   Pangeran Sulaeman Sulendra Ningrat : Babad Tanah Sunda, Babad Cirebon.



2.   Nata Atmaja : Macapat Dandang Gula, Sinom, Singgul Ratu GENI



3.   Narwa : Macapat Kinanti, Babad Pedukuhan Kedokanbunder



4.   Abah Karsana : Cerita Rakyat Babad Alas Lebak Sungsang



5.   Kamad : Cerita Sumur Gede Kedokanbunder



6.   Leluhur : Sejarah dan Sil-Silah Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten Kedokanbunder


KETERANGAN





1.   Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten adalah istri kedua dari Syech Syarif Hidayatullah.

2.   Hasil dari pernikahannya mempunyai keturunan dua orang anak :

a.    Ratu Winaon

b.   Sabah Kingking (Sultan Hasanuddin Banten)

3.   Setelah dewasa Ratu Winaon menikah dengan pangeran dari Telaga keturunan Ratu Galuh yaitu SULTAN ALI BASYAH

4.   Sultan Hasanuddin setelah diangkat jadi Radja di Banten dan Menetap di Banten.






SUSUNAN

PARA PEMIMPIN YANG TELAH MEMIMPIN

DESA KEDOKANBUNDER



1.           Ki Madris                            Tahun 1797 – 1850 selama 53 Tahun

2.           Ki Pangi                              Tahun 1850 – 1856 selama 06 Tahun

3.           Ki Sarijem                           Tahun 1856 – 1876 selama 20 Tahun

4.           Ki Abdurakhman                Tahun 1876 – 1913 selama 37 Tahun

5.           Ki Kasum                            Tahun 1913 – 1945 selama 37 Tahun

6.           Ki Diyol                              Tahun 1945 – 1946 selama 01 Tahun

7.           Ki Sangid                             Tahun 1946 – 1947 selama 06 Bulan

8.           Ki Somad                            Tahun 1947 – 1948 selama 1 Tahun

9.           Ki Kasum                            Tahun 1948 – 1962 selama 14 Tahun

10.     Ki Mursina                          Tahun 1962 – 1967 selama 05 Tahun

11.     Abdul Muin Rais                 Tahun 1967 – 1969 selama 03 Bulan *

12.     Pj. M. Sidik                         Tahun 1969 – 1974 selama 05 Tahun

13.     M. Mansur                          Tahun 1974 – 1977 selama 03 Tahun

14.     Pj. M. Mawardi                   Tahun 1977 – 1978 selama 06 Bulan

15.     HM. Kasan Bisri                 Tahun 1978 – 1988 selama 10 Tahun

16.     H. Mashudi Irsad (Otong)   Tahun 1988 – 1998 selama 10 Tahun

17.     H. Munika                           Tahun 1998 – 2008 selama 10 Tahun

18.     Karta                                   Tahun 2008

BANK SOAL
SEKOLAH DASAR (SD)
    Kelas VI
-  Matematika
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  Bahasa Indonesia
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  Bahasa Inggris
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  IPA
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  IPS
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  PPKN
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)
    Kelas IX
-  Matematika 
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  Bahasa Indonesia
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  Bahasa Inggris
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  IPA
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  IPS
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  PPKN
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5
Sekolah Menengah Atas (SMA)
    Kelas XII
-  Matematika
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  Fisika
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  Kimia
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  Biologi
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  Bahasa Indonesia
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  Bahasa Inggris
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  Ekonomi
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5-  PPKN
   Latihan 1Latihan 2Latihan 3Latihan 4Latihan 5

Selasa, 01 November 2011

Pavita Ardhani: Sang Juara Olimpiade Matematika Dunia dari Sidoarjo



pavita ardhani di indonesiaproud wordpress comPavita Ardhani Sugiharto Putri (11) siswi SD Muhammadiyah 1 Krian, Sidoarjo, membuat prestasi spektakuler.  Ia berhasil menjuarai olimpiade internasional matematika, Wizards at Mathematics International Competition (WIZMIC) di Kota Lucknow, India.
Bocah yang punya kegemaran berhitung mata pelajaran matematika ini meraih 1 emas dan 2 perunggu dalam WIZMIC itu. Dia berjuang keras menyisihkan pesaingnya dari berbagai negara sejak  20-22 Oktober 2011 lalu.
Menurut pengakuan siswa kelas 6 SD ini, kepiawaiannya dalam mengolah dan memecahkan soal berhitung ini berawal dari hobi menghitung. Dia mengikuti pelajaran matematika di sekolahnya ibaratnya sudah menjadi makanan pokok. Matematika baginya merupakan mata pelajaran yang sangat disukai. Bahkan, mata pelajaran itu mendapat tempat istimewa di hati gadis yang selalu tampak ceria ini.
Makanya, wajar jika dia meraih prestasi luar biasa di ajang internasional. Dia sukses mengharumkan nama darah dan bangsa Indonesia. Apa komentar dia, soal prestasinya itu, terutama yang berkaitan dengan persiapan menghadapi olimpiade tersebut?
“Saya tidak ada persiapan khusus dalam perlombaan itu. Hanya saja saya rutin dan tekun untuk mengikuti bimbingan belajar dan juga berdoa supaya bisa memenangi perlombaan tersebut,”  katanya di terminal kedatangan domestik Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo, (27/10).
Ia menegaskan, “Sekali lagi, tidak ada persiapan khusus dan saya memang mencoba untuk mendalami ilmu matematika yang telah diperoleh di sekolah dan juga lebih rutin mengerjakan soal untuk persiapannya ini,” ucapnya.
Menurut siswa yang menyukai ilmu aljabar sejak kecil ini, dirinya berhasil menyabet medali emas tersebut saat bertanding dalam kelompok beregu bersama dengan tiga orang rekannya yang berasal dari Indonesia.
“Dalam soal beregu atau tim tersebut mendapatkan sepuluh soal masing-masing delapan soal dikerjakan sendiri-sendiri dan sisanya dua soal dikerjakan secara bersama-sama,” paparnya.
Anak dari pasangan Sugiharto dan Rini Puspitasari dari Desa Semambung Driyorejo, Gresik ini mengaku akan terus bekerja keras untuk terus mengerjakan soal matematika karena sejak kecil dirinya memang sudah menyukai ilmu matematika.
Juara di Singapura
Selain di Lucknow, India, Pavita Ardhani juga berhasil menjuarai lomba matematika tingkat internasional yakni International Mathematic Contest (IMC) 2011 yang digelar di Global Indian School di Singapura pada 30-31 Juli lalu.
“Tidak ada persiapan khusus dalam perlombaan itu, hanya saja saya rutin dan tekun untuk mengikuti bimbingan belajar selama dalam masa karantina di Bogor,” katanya.
Ia mengemukakan, dalam perlombaan tersebut, dirinya membawa pulang medali perunggu dan berhasil menyisihkan ratusan peserta dari berbagai negara di dunia. “Sekali lagi, tidak ada persiapan khusus hanya selama empat hari persiapan, saya memang mencoba untuk mendalami ilmu matematika yang telah diperoleh di sekolah dan juga lebih rutin mengerjakan soal untuk persiapannya di IMC 2011,” katanya.
Siswa yang menyukai ilmu aljabar ini menjelaskan, dirinya berhasil menyabet medali perunggu saat bersaing bersama ratusan peserta dari berbagai negara.
Meski demikian, ia mengaku belum sepenuhnya dapat mengerjakan 18 soal yang diberikan. Dari jumlah soal yang diberikan tersebut, Pavita mengaku kesulitan mengerjakan dua soal uraian yang diberikan. “Saya kesulitan mengerjakan soal uraian. Karena diperintahkan harus menjelaskan secara detail,” katanya.
Sedangkan, untuk sisa soal yakni delapan isian singkat serta delapan pilihan ganda mampu dia selesaikan dengan cepat. Ia menceritakan, waktu 90 menit yang diberikan pun mampu dia gunakan semaksimal mungkin untuk menyelesaikan soal tersebut. “Saya hanya kesulitan mengerjakan soal uraian saja, sedangkan isian singkat dan pilihan ganda bisa saya kerjakan,”kata siswa yang mempunyai hobi membaca itu.
Dia mengungkapkan, saat lomba dirinya memang memfokuskan untuk mengerjakan isian singkat dan soal pilihan ganda. Pasalnya, dua model soal tersebut mempunyai bobot nilai yang cukup tinggi dibandingkan dengan soal uraian yang diberikan.
“Terlebih lagi, materi soal dalam dua model soal tersebut menjadi kegemarannya. Di antaranya, materi bilangan, kombinasi angka serta beberapa rumus kecepatan,” katanya.
Cinta Matematika
Kesuksesan Pavita memperoleh medali di India & Singapura memang tidak terlepas dari kecintaannya pada mata pelajaran hitung-menghitung ini.
Saat menginjak SD pun dia selalu aktif mengerjakan soal matematika baik itu soal dari guru matematika dan soal yang dia cari dalam jaringan (internet). “Minimal sehari mengerjakan dua soal matematika. Jika soal itu sulit, solusinya jangan mudah menyerah dan terus berusaha,”katanya.
Pavita Ardhani di indonesiaproud wordpress com
Kepala Sekolah SD Muhammadiyah I Krian, Nur Azizah, mengaku senang dengan apa yang prestasi yang diperoleh siswanya ini. “Kami berharap, Pavita akan terus berkarya untuk mempertahankan prestasi matematikanya di sekolah lanjutan kelak, menyusul saat ini Pavita sudah menginjak kelas enam dan akan lulus,” ujarnya.
Humas SD Muhammadiyah I Krian, Hamim Efendi mengaku bangga dengan prestasi anak didiknya yang mampu meraih prestasi di tingkat internasional itu. “Kami berharap, prestasi Pavita dapat diikuti siswa lain. Dan kami juga mempunyai komunitas ‘sains’ untuk menampung siswa-siswa yang gemar pada mata pelajaran tersebut. Diharapkan prestasi dari even nasional dan internasional terus lahir dari bakat dan prestasi siswa,” katanya.
Kurang Perhatian & Penghargaan
Sayangnya, meski telah berhasil mengharumkan nama Indonesia di level dunia, keberhasilan bocah ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Tidak ada satupun penghargaan atau perhatian khusus kepada sang bocah.
Ironisnya, Dinas Pendidikan Sidoarjo selaku pihak terkait tidak tahu jika ada anak didiknya yang berhasil menjuarai olimpiade matematika tingkat dunia di India.

Aromatic Rice: Beras Beraroma Buah Dari Garut yang Tembus Pasar Ekspor



aromatic rice dari GarutPernahkah anda memakan beras yang beraroma buah-buahan? Jika belum, mungkin ada baiknya pergi ke Garut. Orang Garut seperti tak pernah berhenti untuk berkarya dan berinovasi, terutama di bidang retail.
Setelah chocodot atau chocolate dodol, kini di Garut ada beras beraroma atau aromatic rice. Pasarnya pun tak hanya di Indonesia, bahkan sampai ke Dubai dan Arab Saudi.
Berawal dari hanya sekadar ingin membuat oleh-oleh khas Garut dan terinspirasi oleh keberhasilan chocodot, Andreas (26), pemilik CV Seribu Satu, mencoba menjadikan beras berbeda dengan beras lainnya. Beras unik, bisa dijadikan oleh-oleh khas Garut, tapi tak mengurangi rasa beras aslinya.
Andreas yang telah lama menekuni bisnis beras bersama keluarganya mencoba mengangkat beras lokal Garut menjadi beras beraroma atau aromatic rice. Dengan teknik tertentu, yakni memberi ekstrak buah-buahan ketika proses penggilingan beras. Dari beberapa kali percobaan, akhirnya pria lajang lulusan Politeknik Bandung ini menghasilkan beras beraroma, yakni aroma jeruk dan jambu.
Tak hanya beras beraroma, Andreas pun membuat terobosan baru dengan membuat  nasi liwet instan. Dari hasilnya membuat nasi liwet instan, Andreas membuat tiga varian rasa untuk produknya ini, nasi liwet instan rasa jambal, nasi liwet instan rasa jengkol, dan nasi liwet instan rasa pete.
Setelah launching pada bulan Juli 2010, permintaan akan beras aromatik dan nasi liwet instan buatan Andreas terus meningkat. Jumlah permintaan beras telah mencapai 5 ton per-packaging per bulan. Tak hanya pasar domestik seperti Jakarta dan Bandung, permintaan pun datang dari Dubai dan Arab Saudi.
Harga untuk produk beras aromatik ukuran 1 kg adalah Rp. 22.000, sementara nasi liwet instan dengan ukuran setengah kg dijual dengan harga Rp. 20.000.

Rudy & Gunawan Hadisuwarno Raih Penghargaan Internasional di Paris



rudy & gunawan hadisuwarno di indonesiaproud wordpress comPenata rambut Indonesia menorehkan prestasi membanggakan di tingkat dunia.Rudy Hadisuwarno dan Gunawan Hadisuwarno berhasil meraih penghargaan internasional yang diumumkan di Paris, Perancis pada 10 September lalu.
Rudy, yang berkiprah di industri kecantikan dan tata rambut puluhan tahun lamanya, meraih Golden Pin Guillaume Foundation Award 2011atas kontribusinya terhadap regenerasi dalam dunia kecantikan dan tata rambut internasional.
Rudy bersama 6 penata rambut dunia dari total 7 negara, termasuk Indonesia, memelopori berdirinya organisasi penata rambut dunia, Foundation Guillaume International, yang berpusat di Paris sejak 1982.
Melalui organisasi ini, anak muda di seluruh dunia memiliki kesempatan lebih luas dalam mengembangkan jaringan dan keterampilan untuk menjadi bagian dari barisan penata rambut profesional level internasional.
Sementara sang adik, Gunawan Hadisuwarno, terpilih sebagai Personality of the Year Award dari organisasi penata rambut internasional yang berpusat di Paris, Intern des Coiffeurs des Dames (ICD). Beranggotakan 2.500 hairdresser atau salon dari 40 negara, ICD kini berusia 86 tahun. ICD sendiri merupakan induk organisasi dari Foundation Guillaume International.
Gunawan berhasil menggeser kandidat penata rambut dari 39 negara anggota ICD lainnya untuk menerima penghargaan bergengsi di kalangan penata rambut ini. Setiap negara anggota ICD merekomendasikan satu penata rambut yang aktif dalam organisasi di negara asalnya untuk menjadi kandidat dalam penghargaan ini.
Gunawan terpilih karena dianggap paling memenuhi kriteria, di antaranya, penata rambut yang juga pemilik salon, memiliki reputasi dan prestasi dalam industri kecantikan dan tata rambut, serta memiliki interaksi yang baik, kreatif, dan terbukti sukses mengembangkan bisnis salon dan kecantikan, terutama di negara asalnya.
Kreatif menjadi salah satu kata kunci terpilihnya Gunawan sebagai penata rambut profesional terpandang di mata dunia. “Penata rambut harus terus aktif membuat koleksi terbaru tanpa ada batasan waktu. Koleksi yang kembali kepada budaya masing-masing negara,” katanya di acara Coiffeurs Beaute Gathering di Jakarta Convention Center (30/10).
Mau belajar dan senang berbagi
Kunci sukses penata rambut bagi Rudy dan Gunawan adalah kemauan belajar untuk menambah wawasan. Meski menang dan meraih penghargaan dunia, prestasi ini tak membuat keduanya berdiam diri di zona nyaman yang aman.
“Harus rendah hati, terus belajar karena penata rambut adalah profesi yang tidak pernah berhenti. Jadi jangan hanya diam di zona nyaman, merasa mapan, karena kalau seperti itu maka akan tertinggal. Penata rambut harus terus mengembangkan diri,” kata Rudy berbagi rahasia kesuksesannya.
Rudy berharap, prestasi penata rambut Indonesia bisa menjadi inspirasi bagi kalangan muda, yang kini semakin tertarik dengan profesi ini. Meski telah meraih penghargaan tertinggi di kalangan penata rambut profesional dunia, Rudy masih menyimpan obsesi.
“Saya masih ingin berbuat lebih banyak, membuka lapangan pekerjaan, masih banyak yang belum beruntung mendapatkan pekerjaan. Saya ingin memberikan kesempatan kepada anak muda untuk menjadi penata rambut dan kecantikan yang bisa dipilih sebagai profesi. Dengan waktu pendidikan profesi yang tak lama, penata rambut pemula bisa mendapatkan penghasilan,” kata Rudy, yang ingin menerapkan konsep education for life di Indonesia.
Konsep education for life merupakan konsep pendidikan gratis untuk orang terbuang yang berhasil dijalankan di Brasil bersama penata rambut profesional di dunia di bawah bendera organisasinya.

SIswa SMKN 5 Makassar Raih Perunggu di World Mobile Robotic Competition 2011



deni (paling kiri) & tawakkal (kedua dari kanan)
deni (paling kiri) & tawakkal (kedua dari kanan)
Mengibarkan bendera Indonesia di stadium Excel, London, menjadi sebuah kebanggaan besar bagi Muhammad Tawakkal danDeni Setiawan, yang berhasil membawa posisi Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia dalam World Mobile Robotic Competition 2011.
Medali perunggu yang dikalungkan di dada mereka di hadapan ratusan peserta dari  seluruh dunia yang mengikuti kompetisi robot dunia di London, Inggris pun mengukuhkan prestasi yang berhasil mereka raih dengan kedua robot canggih rancangannya.
Terbang dari Indonesia 30 September lalu, Muhammad Tawakkal dan Deni Setiawan, bersama 22 pelajar lainnya dari seluruh Indonesia pun berangkat bersama beberapa pendamping dari Dinas Pendidikan Nasional untuk mengikuti lomba robot dunia yang digelar pada 5 – 8 Oktober lalu di London, Inggris. Sebanyak 58 negara harus siap menghadapi untuk bersaing dalam memperebutkan juara tersebut.
Melawan 16 negara untuk bidang mobile robotic dalam kompetisi selama empat hari tersebut, mereka diberikan dua buah soal robot yang harus mereka pecahkan masing-masing selama dua hari. Soal pertama adalah untuk memprogram robot mereka menjadi tukang pos yang berfungsi mengantarkan surat ke tujuh alamat yang berbeda.
Ketujuhnya adalah jam besar London, Istana Buckingham, O2 Arena, Canari Wharf, Crystal Palace, Elephant Castle dan King Cross Station. Menghadapi tantangan ini, kedua otak mereka pun bekerja dengan keras untuk menyusun rumus pemrograman robot agar dapat mengikuti konsep maping atau pemetaan tempat dengan C++, bahasa pemrograman yang digunakan.
Di tantangan mereka yang pertama, hasilnya pun cukup memuaskan dengan hasil yang maksimal. Pada tantangan yang kedua, mereka harus memrogram robotnya untuk menjadi robot forklift atau robot pengangkat barang.
Mereka pun sempat mengalami beberapa hambatan dalam pemetaan lokasi secara tepat, maupun hambatan teknis ketika robot rancangannya tiba-tiba menabrak sesuatu.
Melawan 16 negara berbeda memang memberikan pelajaran tersendiri bagi Tawakkal dan Deni. Diakuinya, Tawakkal sempat merasa gugup melihat kemampuan peserta dari Jepang dan Korea yang setiap tahunnya rutin menyabet peringkat I dan II.
“Dibandingkan Korea dan Jepang, Indonesia juga mampu bersaing. Namun kemampuan mereka memang masih lebih. Wajarlah karena persiapan mereka yang sudah dari tiga tahun sebelumnya dibandingkan kita yang satu tahun. Belum lagi teknologinya lebih canggih,” jelas Tawakkal.
Sebelumnya, mereka memang telah mengikuti pelatihan intensif selama setahun di Politeknik ITS Surabaya oleh Diknas untuk persiapan mengikuti kompetisi dunia tersebut, setelah tim SMKN 5 Makassar ini berhasil meraih Juara I Mobile Robotic se-Indonesia.
Perpisahan dari keluarga selama setahun mengikuti pelatihan itu pun kini membuahkan hasil. Tawakkal dan Deni, pelajar dari Makassar, mampu menunjukkan kepada dunia kemampuan Indonesia dikancah internasional, bahkan mengalahkan Jerman dan negara lainnya.
“Alhamdulillah, bisa mewujudkan impian saya membanggakan orangtua dan membawa nama harum Indonesia. Mimpi saya untuk berkunjung ke Inggris pun akhirnya kesampaian berkat prestasi ini,” tandas Tawakkal.
Sumber: fajar.co.id