Rabu, 08 Juni 2011

Pengertian Pengelolaan Kelas


Pengelolaan kelas ditinjau dari aktifitas guru, menuru pandangan otoriter merupakan seperangkat kegiatan untuk mengusahakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Sedangkan menurut pandangan permisif, pengelolaan kelas dipandang sebagai seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa. Dari kedua pandangan di atas nampak sekali adanya perbedaan yang besar, terutama dalam visi dan misi moralnya.

Kalau pandangan otriter menekan kebebasan siswa untuk sebuah tujuan agar suasana kelas menjadi lebih tertib, sedangkan pandangan permisif justru berusaha menciptakan suasana yang didalamnya secara maksimal kebebasan siswa terekspresikan. Dilihat dari kedua pandangan ini tentu tidak akan dapat dicapai tujuan pembelajaran yang baik, mengingat tidak terdapat keefektifan dan kurang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak.

Lain lagi dengan pandangan Behavioristik pengelolaan kelas ditinjau dari dinamika siswa, merupakan kegiatan atau suatu proses pengubahan tingkah laku siswa. Pengubahan tingkah laku yang diharapkan adalah perubahan tingkah laku yang bersifat positif dan mengurangi tingkah laku yang negatif. Sedangkan menurut padangan sosio emosional, pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim yang kondusif untuk terjadinya proses belajar mengajar. Iklim kondusif yang dimaksud adalah adanya hubungan yang baik antara siswa yang satu dengan siswa lainnya dan juga antara siswa dengan gurunya. Selain itu terdapat pula pandangan sistem sosial dengan proses kelompok yang mendefinisikan bahwa pengelolaan kelas merupakan kegiatan kelopok, walaupun proses belajar terjadi secara individu.

Dari ketiga pandangan di atas baik pandangan Behavioristik, sosio-emosional, dan sistem sosial nampaknya tidak ada yang terbaik, namun apabila dilakukan penggabungan dari ketiga pandangan tersebut munkin pengelolaan kelas dapat dikembangkan baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok sesuai dengan kondisi kelas yang dihadapnya. Pengelolaan kelas yang dilakukan oeh guru berarti bertujuan untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif, aetinya menciptakan suasana kelas yang dapat membuat suasana belajar mengajar menjadi efektif dan efisien.

Agus Sujudi, dan kawan-kawan (1997: 14) menjelaskan peran seorang guru dalam pengelolaan kelas dengan menyatakan:
“Susana kondusif dapat diciptakan oleh guru, proses yang benar dan evaluasi yang tepat. Persiapan yang harus dilakukan pada pokoknya satuan acara pengajaran mulai dari tujuan intruksional, materi, pemilihan metode dan teknik evaluasinya. Proses belajar mengajar yang benar adalah melaksanakan persiapan dengan diikutipemberian penguatan, pertanyaan. Dengan demikian perlu kemampuan bertanya dimiliki oleh guru. Selain itu, seni penyampaian materi termasuk dalam pemilihan media pengajaran. Paling akhir adalah melakukan evaluasi yang tepat. Pada tahap ini, guru dituntut membuat alat evalusi yang dapat mengukur prestasi siswa serta menginterprestasikannya”.

Selain kiat-kiat di atas, yang dapat dan harus dimiliki oleh seorang guru dalam pengelolaan kelas adalah masalah yang berkenaan dengan psikologi anak terutama yang menyangkut kesukaan, keantusiaasan dan rekreatif. Hal ini, sesuai dengan pendapat Afifudin yang menyatakan “Tidak boleh dilupakan dalam pengelolaan kelas yaitu prinsip kehangatan dan keantusiasan, kebervariasan dan penekanan pada hal-hal positif” (Affifudin; 1988:124)


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Dasar Pengelolaan Kelas



Pengelolaan kelas yang dapat menciptakan interaksi belajar mengajar secara efektif dan efisien mempunyai dasar yang kuat dan jelas (Roestiyah, 1989: 75).
a. Dasar Religius
Agar pendidik berhasil dalam mengelola anak didiknya, maka ia harus mempertimbangkan metode apa yang harus dipakainya, melihat waktu, serta kondisi yang ada. Karena hal itu akan menunjang keberhasilan dalam pengelolaan kelas. Sebagaimana hadist nabi S.A.W yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي اْلأَيَّامِ كَرَاهَةَ السَّآمَّةِ عَلَيْنَا (البخاري)
“Nabi S.A.W mengajari kami dengan memlih hari (waktu) yang tepat, sehingga kami tidak merasa bosan” (HR. Bukhori)

Pengelolaan kelas merupakan kegiatan bersama antara guru, pelajar, maupun komponen yang terkait dalam proses pembelajaran. Tanpa keaktifan, partisipasi, kerja sama, maka tujuan pengajaran akan sukar dicapai. Demikian corak dan bentuk kerja sama sangat erat dengan sosio-antropologis setempat pada suatu bangsa.

c. Dasar Filosofis
Dalam pengelolaan kelas harus didasarkan dan berpedoman pada falsafah hidup yang tepat, dan yang dinamik. Seperti di Indonesia, yang menjadi dasar serta pedoman dalam manajemen kelas adalah Pancasila, sebab pancasila merupakan falsafah hidup (way of life) bangsa Indonesia. Maka pengelolaan atau manajemen kelas harus berdasarkan dan dilaksanakan sesuai isi sila-sila Pancasila.

d. Dasar Psikologis
Pelaksanaan manajemen kelas dalam interaksi belajar mengajar tidak dapat lepas dari faktor psikologi guru, siswa terutama, maupun komponen lain yang berkaitan. Masalah psikologis yang ikut mendasari pengelolaan kelas adalah:
1. Masalah motivasi
Dengan memilih serta melaksanakan motivasi yang tepat agar dapat mencapai tujuan dengan lancar dan penuh kegembiraan. Misalnya motivasi siswa agar giat belajar.
2. Masalah belajar
Memilih, menerapkan dan mengembangkan teori belajar yang tepat sehingga belajar secara efisien, efektif dan produktif.
3. Masalah individu atau pribadi
Di dalam pengelolaan kelas, masalah individual perlu diperhatikan, di samping masalah sosial.

e. Dasar Manajemen
Sebagai landasan dalam pengelolaan interaksi belajar mengajar yaitu teori manajemen, pengelola atau guru harus dapat menerapkan teori dalam praktik dengan tepat. Dasar-dasar manajemen, pengertian manajemen dengan jelas dan tepat dilaksanakan.

f. Dasar Komunikasi
Komunikasi yang tepat akan melancarkan interaksi. Pilihan komunikasi secara langsung atau menggunakan media tertentu.

g. Dasar Kurikulum
Dalam manajemen interaksi belajar mengajar di kelas, tidak dapat dilupakan dasar kurikulum. Dasar ini dapat disebut dasar content. Apa yang akan menjadi isi interaksi belajar mengajar yang berlangsung.

h. Dasar Mengajar
Hal ini penting sekali menetapkan teori mengajar yang bagaimana digunakan sesuai dengan situasi kondisi serta akan menjadi tercapainya tujuan.

i. Dasar Evaluasi
Suatu manajemen tidak dapat melupakan evaluasi. Sesuatu kegiatan akan efektif apabila disertai evaluasi yang tepat agar dapat dikembangkan suatu manajemen interakasi belajar mengajar yang tepat (Roestiyah, 1989: 75-79).

Dari dasar-dasar itu dapat dirangkumkan bahwa pengelolaan kelas mengaplikasikan beberapa prinsip ilmiah agar dalam manajemen interaksi belajar mengajarnya berjalan dengan tepat, efisien, efektif dan produktif dalam mencapai tujuan.



M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Selasa, 07 Juni 2011

ATURAN BARU 2010 KENAIKAN PANGKAT GURU

Peraturan baru yang mengatur kenaikan pangkat jabatan fungsional guru (guru dan kepala sekolah) telah terbit, yakni:
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PermenPANRB) No. 16 Tahun 2009 tanggal 10 November 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
Peraturan Bersama Mendiknas dan Kepala BKN Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010 tanggal 6 Mei 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
Berdasar peraturan bersama ini, disebutkan dalam pasal 42: Peraturan Bersama ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2013.
Berikut kutipan sebagian isi Juklak syarat kenaikan pangkat/jabatan guru yang berbeda dengan peraturan sebelumnya
III/a ke III/b wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 3 angka kredit.
III/b ke III/c wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 3 angka kredit dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah, membuat alat peraga, alat pelajaran, karya teknologi/seni) dengan 4 angka kredit.
III/c ke III/d wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 3 angka kredit dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah, membuat alat peraga, alat pelajaran, karya teknologi/seni) dengan 6 angka kredit.
III/d ke IV/a wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 4 angka kredit dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah, membuat alat peraga, alat pelajaran, karya teknologi/seni) dengan 8 angka kredit.
IV/a ke IV/b wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 4 angka kredit dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah, membuat alat peraga, alat pelajaran, karya teknologi/seni) dengan 12 angka kredit.
IV/b ke IV/c wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 4 angka kredit dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah, membuat alat peraga, alat pelajaran, karya teknologi/seni) dengan 12 angka kredit (dan harus presentasi di depan tim penilai).
IV/c ke IV/d wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 5 angka kredit dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah dengan 14 angka kredit.
IV/d ke IV/e wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 5 angka kredit dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah, membuat alat peraga, alat pelajaran, karya teknologi/seni) dengan 20 angka kredit.
Sosialisasi
Implementasi atas peraturan ini pasti akan ada sosialisasi. Untuk itu, sambil menunggu kapan pelaksanaan sosialisasi, ada baiknya rekan guru memahami peraturan ini.

Dalam pandangan saya, isi peraturan ini terkandung  makna dan semangat bahwa saat ini pekerjaan guru tidak lagi dipandang sebagai  sebuah pekerjaan yang asal-asalan, tetapi merupakan sebuah pekerjaan profesional yang dibingkai oleh kaidah-kaidah profesi yang standar.
Jika Anda bermaksud mempelajari lebih lanjut isi peraturan  tersebut,  silakan klik DI SINI (4share) atau DI SINI (ziddu). 

http://akhmadsudrajat.wordpress.com

Senin, 06 Juni 2011

Windows XP Professional SP 3 Auto Genuine Free Download

Kenapa saya sebut sebagai XP Auto Genuine,karena sudah saya gunakan berkali kali,dan setelah selesai instalasi saya chek dengan MGADiag Tool selalu dengan hasil Genuine.Jadi bagi anda yang masih suka dengan OS atau Operating System Windows XP ada baiknya anda mencobanya atau dijadikan koleksi juga gak pa2,hehehe.Karena selain Auto Genuine OS ini juga sudah dilengkapi dengan Program Program Penting diantaranya :

- Adobe Flash Player Plugin dan Active X
- Internet Explorer 8
- Windows Media Player 11
- Winrar 4.00 Final
- Java 6
- Microsoft .NET Framework 2.0 SP 2
- Microsoft .NET Framework 3.0 SP 2
- Microsoft .NET Framework 3.5 SP 1
- Microsoft .NET Framework 4
- Microsoft Visual C++ 2005,2008 dan 2010
- LClock
- Dan beberapa Software yang saya tambahkan didesktopnya diantaranya :
> Genuine XP Tools.rar,yaitu kumpulan beberapa tool yang berhubungan dengan Genuine OS XP,jadi setelah instalasi selesai silahkan langsung di chek genuine tidaknya.
> IDM 6.05 Build 14 Full
> Power ISO 4.7
> Smadav Rev 8.5
> Keygen Tune Up 2011,Installernya silahkan download dari postingan saya tentang Tune Up.

Penasaran dengan XP SP 3 Auto Genuine ini,silahkan Download Disini file ISOnya,1 link filenya berukuran sekitar 692.1 MB
Yang perlu diperhatikan jika menggunakan XP ini
1. Silahkan baca terlebih dahulu Read Me yang ada didalamnya.
2. Default Bahasa Keyboardnya adalah United Kingdom,jadi waktu Instalasi silahkan ganti menjadi United States agar tidak terjadi kerancuan pada tombol keyboardnya.
3. Installer ini bukan untuk Upgrade OS maupun Service Packnya
4. Jika anda jalankan lewat Booting awal windows maka tidak memerlukan Serial Number,tapi jika dijalankan waktu windows aktif maka perlu serial Number (Lihat Read Me SNnya )
5. Silahkan Update XPnya jika memang hardisk anda masih banyak Free Spacenya,( Harus Uptodate)

Alternatif Download 1 Links ISO File
http://www.fileserve.com/file/TceQgQz/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.iso
http://6lqh.com/g1ci3aayqicj/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.iso.html

Link Download yang saya bagi 4 Bagian
http://www.fileserve.com/file/hvyz8gr/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part1.rar
http://www.fileserve.com/file/rdE9j2A/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part2.rar
http://www.fileserve.com/file/PacyKpV/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part3.rar
http://www.fileserve.com/file/9d4Ecfm/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part4.rar

http://6lqh.com/b41dg6hkco9c/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part1.rar.html
http://6lqh.com/v1094wlaixij/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part2.rar.html
http://6lqh.com/a20mysvsp609/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part3.rar.html
http://6lqh.com/syheptlzsf6v/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part4.rar.html

http://filekeen.com/6k3yk044zoz6/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part1.rar.html
http://filekeen.com/au5rx3a9vevo/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part2.rar.html
http://filekeen.com/nnlvh5gfaa1i/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part3.rar.html
http://filekeen.com/vckjnykeubcl/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part4.rar.html

http://www.enterupload.com/xhgtc8p11dwb/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part1.rar.html
http://www.enterupload.com/48zz86jo1w1r/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part2.rar.html
http://www.enterupload.com/tko4sdt2bfhb/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part3.rar.html
http://www.enterupload.com/qvbcszblsqlf/Bismillahslamet.com-XPPRO-SP3-32Bit-V1.part4.rar.html

Sabtu, 04 Juni 2011

Software Pengoreksi Lembar Jawaban Komputer (LJK)

Sekarang marak sekali sistem Pengoreksian lembar jawaban siswa, baik itu ulangan harian, semesteran sampai ke Ujian akhir Nasional. Ini adalah imbas dari maraknya IT yang bukan lagi ilmu mahal bagi semua orang dan termasuk didalamnya dunia pendidikan. Dimana pada dekade ini Lembar Jawaban Siswa tidak lagi di koreksi secara manual melainkan Dikoreksi secara aotomatic menggunakan perangkat scaner.
Diawali dari Pembaca Lembar Jawaban Komputer menggunakan sistem Optical Mark Reader (OMR) dimana sistem scaner yang digunakan merupakan sistem scaner khusus yang difungsikan melalui optic untuk membaca bagian-bagian didalam LJK tersebut atau layaknya seperti bar code didalam kemasan-kemasan produk makan. Namun dewasa ini telah berkembang suatu inovasi baru pembacaan LJK dengan sistem Scaner yang lazim digunakan menginput picture pada umumnya. Dalam bahasa pemrograman sekarang dikenal dengan Recognize mark reader, dengan pola sistem memastikan antara gambar yang dijadikan master sebagai perekognizenya dengan picture atau LJK dari siswa sebagai tujuan akhirnya, Kalau bisa diperjelas bila kita menggambar menggunakan sebuah kertas nah sistem yang sekarang banyak digunakan adalah mencoba menggambar menggunakan kertas tembus pandan/transparent dengan masternya dalam bahasa lain “ngeblat” atau ngajiplak atau nyerang.
Ada banyak sekali software tipe ini yang harganya relatif lebih ringan daripada harga OMR yang diatas 20 jutaan, diantara sebanyak software tipe ini ada yang populer adalah DMR (Digitall Mark Reader) dan SMR (Smart Mark Reader) yang harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan OMR (Opticall Mark Reader) dimana Scaner dalam Recognize Mark Reader ini dapat digunakan Scaner yang kebanyakan digunakan oleh masyarakat umum baik yang sifatnya Flat (manual) maupun yang Auto feeder.
Namun bagi semuanya yang ingin menikmati kemudahan dalam mengoreksi ada salah sat software yang memang diberikan secara free yaitu dai IntelliScanLJK yang dikembangkan oleh perusahaan yang berada di Banjarmasin yaitu DATAMAS COMPUTER BANJARMASIN Jl. Sultan Adam Komp. Pondok Kelapa Rt. 12 No. 40 Banjarmasin Kalimantan Selatan – Indonesia Phone : (0511) 712 8484 Cellular : +62 812 518 2324 E-Mail 1: admin@borneosoft.co.cc E-Mail 2: datamasbjm@gmail.com atau anda bisa download langsung dari situsnya : klik disini : inteliscanljk
Oke semoga bermanfaat bagi dunia pendidikan khususnya dan kemajuan bangsa ini umumnya. Bravo Pendidikan Indonesia Maju Guru Indonesia

Software Jadwal Pelajaran Otomatis dengan Asc Timetables

Membuat jadwal pelajaran dalam sebuah sekolah adalah kegiatan rutinitas tahunan bahkan mungkin per semester. Gampang gampang susah kalimat yang cocok untuk mewakili pekerjaan yang satu ini, gampang kalau permintaan guru tidak banyak modelnya, tapi jadi pekerjaan yang susah jika jumlah guru banyak, masing-masing minta jadwal jam kosong yang harinya tertentu, biasanya sabtu hehehehe, ditambah lagi model team teaching dan moving class, bisa-bisa gak bisa tidur nyenyak seminggu hehehehehe. Ada beberapa cara membuat jadwal pelajaran antara lain:
Cara manual dengan system kartu dalam membuat jadwal pelajaran dilakukan dengan membuat kartu yang berwarna-warni yang masing-masing diisi nama guru dan mapel yang diajarkan.Satu kartu menyatakan satu kali tatap muka/pertemuan (2 jp atau 1 jp), tiap warna kartu menyatakan pengajar/guru tertentu, dengan cara ini dimungkinkan akan mempermudah menempatkan jam-jam tatap muka guru mapel tertentu sehinggat idak terjadi tumbukan jadwal pelajaran atau ketidaksesuaian jumlah jam mengajar tiap guru.Cara system kartu dalam membuat jadwal pelajaran memiliki banyak kelemahan, di antaranya tidak praktis (karena harus membuat kartu yang bermacam-macam), memerlukan ketelitian dankecermatan yang tinggi (karena disusun secara manual), memerlukan waktu yang lama, dan untuk mencetak harus dilakukan pengetikan ulang lebih dahulu.
menyusun jadual pelajaran kedua adalah cara format condition pada program aplikasi Microsoft excel. Cara tersebut sebenarnya mempunyai tujuan yang sama dengan cara yang pertama, di mana apabila terdapat data yang sama dalamsatu baris (row) atau kolom (column) akan mengakibatkan timbulnya warna tertentu atau bunyi tertentu (sesuai setting format condition-nya) sehingga tumbukan jam mengajar guru yang sama dapat diketahui dan dihindari. Cara format condition masih banyak memiliki kelemahan di antaranya memerlukan ketelitian dan kecermatan yang tinggi (karena distribusi jam masih disusun secara manual), memerlukan waktu yang lama, akan tetapi kelebihan dari membuat jadwal pelajaran ini adalah bisa langsung dicetak tanpa pengetikan ulang. Model seperti ini bisa di donwload disini
Cara yang ketiga dalam membuat jadwal pelajaran dengan menggunakan software penyusunan jadwal ASc Timetables 2008. Cara ini mempunyai konsep dasar yang sama dengan cara yang pertama (system kartu) yaitu dilakukan dengan 3 tahap:
a. tahap inventarisasi, yaitu menginventarisasi jumlah jam masing-masing mapel tiap kelas perminggu (diketahui dari struktur program kurikulum), jumlah jamdan mapel yang diajarkan tiap guru pada suatu kelas (dapat dilihat dari pembagian tugas mengajar), jumlah jam pelajaran maksimum tiap ruang mapel
b. tahap entry data, yaitu tahap memasukan data guru (nama, kode, warna, mengajar jenis mapel dan kelas serta jumlah tatap muka, hari/jam kosong), data mapel (nama mapel, kode, jam-jam kosong), data kelas (nama kelas, kode, kelompok siswa), dan data ruang (nama ruang, kode, hari/jam kosong). Pada tahap ini sebenarnya sama dengan pembuatan kartu pada cara pertama, tetapi semua dilakukan secara computerized.
c. Distribusi jam, yaitu mendistribusikan kartu-kartu tatap muka perguru permapel yang mempunyai kondisi persyaratan tertentu. Pendistribusian kartu dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu otomatis (generate) dan manual.
Baiklah secara ringkasnya penggunaan Asc Timetable sebagai berikut:
  1. Instal program atau software penyusunan jadwal Asc TimeTable bila belum punya download disini.
  2. Buka Program, pilih New, Setelah muncul kotak dialog langkah 1 dari 7, klik Next
  3. Entri data sekolah pada kotak dialog langkah 2 dari 7
  4. Entri data pelajaran pada kotak dialog langkah 3 dari 7 berikut, klik baru
nomer-4
5.  Setelah muncul kotak dialog pelajaran, ketik pelajaran dan kode kemudian klik OK
6. Untuk setting jam-jam kosong pada pelajaran:
Klik nama pelajaran, Klik waktu kosong, Setelah muncul kotak dialog, klik jam-jam kosong yang diinginkan sampai muncul tanda silang merah, kemudian klik OK,
7. Setelah semua pelajaran sudah di-entri-kan klik Next, Setelah muncul kotak dialog kelas, ketik kelas dan kode kemudian klik OK
8. Entri data Entri data klasrum/ruang pada kotak dialog langkah 5 dari 7 berikut, klik baru (isi kelas dan kode kelas)
9. Setelah muncul kotak dialog guru, ketik nama, kode, ubah pada warna, browse picture kemudian klik OK
10. Setelah muncul kotak dialog Add more lesson berikut, pilih kelas, Grup, mata pelajaran, Jumlah (pertemuan/tatap muka, dipilih 1), panjang (jumlah jam tiap tatap muka, pilih dobel apabila 2 jp/tatap muka atau single apabila 1 jp/tatap muka), hilangkan tanda check (V) pada home (apabila moving class), untuk memilih ruang pilih other.
11. setelah semua guru di-entri-kan, klik Next.
Sekarang semua sudah terisi tinggal bagian komputer yang memberikan layanan pada kita, tekan test untuk mengetahui ketersedian ruang dan permintaan teman-teman terkait jam kosong, bila hasil tes gak ada masalah, sekarang tekan tombol membuat jadwal baru pilih normal, sedang atau tinggi, apa bedanya silahkan dicoba bila masih kesulitan bisa mengirim komentar.
tulisan disarikan dari saudara hariyanto

http://animhadi.wordpress.com

MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW


Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam pembelajaran, guru harus memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru.

BAB I PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. Dalam konteks penyelenggaraan ini, guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dan berpedoman pada seperangkatn aturan dan rencana tentang pendidikan yang dikemas dalam bentuk kurikulum.
Kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan berorientasi pada kemajuan sistem pendidikan nasional, tampaknya belum dapat direalisasikan secara maksimal. Salah satu masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah lemahnya proses pembelajaran.
Berdasarkan pengamatan riil di lapangan, proses pembelajaran di sekolah dewasa ini kurang meningkatkan kreativitas siswa, terutama dalam pembelajaran ekonomi. Masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh sang guru.
Proses pembelajaran yang dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang selalu didominasi oleh guru. Dalam penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah, dimana siswa hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
foto proses pembelejaranUpaya peningkatan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal.
Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa. Jadi, kegiatan belajar berpusat pada siswa, guru sebagai motivator dan fasilitator di dalamnya agar suasana kelas lebih hidup.
Pembelajaran kooperatif terutama teknik Jigsaw dianggap cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk menyusun makalah dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Teknik Jigsaw dalam Pembelajaran”.

BAB II PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TEKNIK JIGSAW

A. Pembelajaran Cooperative Learning
Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.
Falsafah yang mendasari pembelajaran Cooperative Learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah “homo homini socius” yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih.
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Menurut Anita Lie dalam bukunya “Cooperative Learning”, bahwa model pembelajaran Cooperative Learning tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning, untuk itu harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong yaitu :
1. Saling ketergantungan positif.
Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.
2. Tanggung jawab perseorangan.
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran Cooperative Learning, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran Cooperative Learning membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.
3. Tatap muka.
Dalam pembelajaran Cooperative Learning setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.
4. Komunikasi antar anggota.
Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok juga merupakan proses panjang. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
5. Evaluasi proses kelompok.
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Arends (1997) adalah sebagaimana terlihat pada table berikut ini
Tabel Sintaks Pembelajaran Kooperatif
FASE – FASE TINGKAH LAKU GURU
FASE 1Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
FASE 2Menyajikan informasi Guru menyajikan kepada siswa dengan jalan demontsrasi atau lewat bahan bacaan
FASE 3Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar Guru menjelaskan kepada siswa begaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efesien
FASE 4Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
FASE 5Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempersentasikan hasil kerjanya.
FASE 6Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
B. Tujuan Pembelajaran Cooperative Learning
Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok konvensional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994).
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al. (2000), yaitu:
1. Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
2. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.
3. Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.
C. Model Pembelajaran Cooperative Learning Teknik Jigsaw
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001).
Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et. al. sebagai metode Cooperative Learning. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara.
Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997).
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends, 1997).
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan” (Lie, A., 1994).
Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim / kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.
Langkah-langkah dalam penerapan teknik Jigsaw adalah sebagai berikut :
• Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji). Misal suatu kelas dengan jumlah 40 siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal.
Gambar Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw
• Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
• Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.
• Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.
• Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.
• Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan Jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah tidaklah selalu berjalan dengan mulus meskipun rencana telah dirancang sedemikian rupa. Hal-hal yang dapat menghambat proses pembelajaran terutama dalam penerapan model pembelajaran Cooperative Learning diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Kurangnya pemahaman guru mengenai penerapan pembelajaran Cooperative Learning.
2. Jumlah siswa yang terlalu banyak yang mengakibatkan perhatian guru terhadap proses pembelajaran relatif kecil sehingga yang hanya segelintir orang yang menguasai arena kelas, yang lain hanya sebagai penonton.
3. Kurangnya sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran Cooperative Learning.
4. Kurangnya buku sumber sebagai media pembelajaran.
5. Terbatasnya pengetahuan siswa akan sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.
Agar pelaksanaan pembelajaran Cooperative Learning dapat berjalan dengan baik, maka upaya yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Guru senantiasa mempelajari teknik-teknik penerapan model pembelajaran Cooperative Learning di kelas dan menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.
2. Pembagian jumlah siswa yang merata, dalam artian tiap kelas merupakan kelas heterogen.
3. Diadakan sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran Cooperative Learning.
4. Meningkatkan sarana pendukung pembelajaran terutama buku sumber.
5. Mensosialisasikan kepada siswa akan pentingnya sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Pembelajaran di sekolah yang melibatkan siswa dengan guru akan melahirkan nilai yang akan terbawa dan tercermin terus dalam kehidupan di masyarakat. Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam kelompok secara bergotong royong (kooperatif) akan menimbulkan suasana belajar partisipatif dan menjadi lebih hidup. Teknik pembelajaran Cooperative Learning dapat mendorong timbulnya gagasan yang lebih bermutu dan dapat meningkatkan kreativitas siswa.
Jigsaw merupakan bagian dari teknik-teknik pembelajaran Cooperative Learning. Jika pelaksanaan prosedur pembelajaran Cooperative Learning ini benar, akan memungkinkan untuk dapat mengaktifkan siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Sampai saat ini pembelajaran Cooperative Learning terutama teknik Jigsaw belum banyak diterapkan dalam pendidikan walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
B. Saran
Sudah saatnya para pengajar mengevaluasi cara mengajarnya dan menyadari dampaknya terhadap anak didik. Untuk menghasilkan manusia yang bisa berdamai dan bekerja sama dengan sesamanya dalam pembelajaran di sekolah, model pembelajaran Cooperative Learning perlu lebih sering digunakan karena suasana positif yang timbul akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencintai pelajaran dan sekolah / guru. Selain itu, siswa akan merasa lebih terdorong untuk belajar dan berpikir.

DAFTAR PUSTAKA
Anita Lie. 2007. Cooperative Learning. Jakarta : Grasindo.
Daeng Sudirwo. 2002. Kurikulum dan Pembelajaran Dalam Rangka Otonomi Daerah. Bandung : Andira.
Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Pedoman Pembelajaran Ekonomi Secara Kontekstual Untuk Guru SMP. Jawa Barat : Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Pedoman Pembelajaran Geografi Secara Kontekstual Untuk Guru SMP. Jawa Barat : Depdiknas.
Muhibbin Syah. 1995. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung : Rosda.
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 1995. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Syaiful Sagala. 2006. Konsep Dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta