Sabtu, 04 Juni 2011

Kelebihan Metode Think CoW

Inti dari metode Think CoW adalah pemahaman terlebih dahulu tentang strategi berpikir oleh pengajarnya (baik orang tua atau guru) dan kemudian membimbing anak dengan pertanyaan2 sesuai dengan strategi berpikir tersebut. Fokus dari Metode Think CoW adalah Soal Cerita (Word Problem) karena dengan bentuk Soal Cerita ini dapat dijembatani antara problem dalam dunia nyata dan problem dalam Matematika, terutama dalam Permodelan Matematika. Bentuk Soal Cerita adalah bentuk problem matematika dimana informasi dalam problem tersebut disajikan dalam kata-kata, alih-alih daripada dalam Notasi Matematika. Kelebihan dari Metode Think CoW bisa diringkas seperti ini:


1. Memusatkan diri dari proses berpikir, alih-alih daripada content suatu soal.

Hal ini mengatasi kecenderungan dari soal matematika saat ini, dimana siswa diharuskan mendapatkan jawaban yang benar dengan cara tertentu dan ini mempunyai efek psikologis: berhenti berpikir tentangalternatif yang lain karena merasa tidak akan bisa lebih benar lagi!

2. Adanya strategi untuk memecahkan soal cerita, dimana problem Aljabar dapat disederhanakan menjadi sekedar Problem Aritmatika.

Karena bentuk problem Aritmatika jelas lebih mudah untuk dihitung daripada problem Aljabar, maka penguasaan dari strategi ini dapat digunakan di awal pengenalan bidang Aljabar, yang seringkali terasa sangat menyulitkan siswa

3. Dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan Logis dan Kreatif secara mandiri.

Karena penggunaan kartu yang berisi pertanyaan-pertanyaan penuntun strategi berpikir, siswa dapat bekerja secara mandiri untuk menggali proses berpikir dari setiap problem yang dihadapi. Cara berpikir yang terstruktur ini dapat diperkuat dengan penjelasan mengenai berbagai jenis proses berpikir secara langsung nantinya.

Perbedaan antara METRIS dan Think CoW

Pendidikan yang baik harus Relevan bagi kehidupan siswa nantinya. Paradigma Pendidikan Relevan, yang telah diakui oleh dunia pendidikan dapat diakronimkan sebagai:

a. 3 R (Reading, 'Riting and 'Rithmetics) dan
b. 2 P (Purpose and Programming).


3 R (Reading, 'Riting and 'Rithmetics) ini adalah kemampuan dasar yang sangat diperlukan siswa untuk hidup dalam peradaban manusia. Karena kemampuan 3 R ini juga merupakan Landasan bagi pengembangan kemampuan yang lain, maka perlu dicapai suatu Taraf Kompetensi yang tinggi dalam bidang ini. Hal ini dimaksudkan untuk membangun kepercayaan diri siswa dalam meraih kemampuan-kemampuan yang lain, yang tentunya sangat membutuhkan kemampuan dasar ini.

METRIS berhubungan pengembangkan kemampuan R yang ketiga yaitu ‘Rithmetics (Aritmatika Dasar). Dengan mempelajari METRIS, siswa akan dapat menghitung Aritmatika Dasar dengan cepat dan efektif. Hal ini dapat dilakukan karena siswa akan terlatih dalam mengenali Pola Bilangan dalam perhitungan Aritmatika Dasar yang dihadapinya.

Sedangkan pengajaran 2 P (Purpose and Programming), bertujuan agar siswa mampu melihat Tujuan (Purpose) hidupnya, dan berpikir bagaimana untuk mencapai tujuan tersebut (Programming). Kemampuan ini sangat diperlukan siswa ketika mereka harus terjun dalam dunia nyata sehari-hari, di mana mereka akan dituntut untuk memberikan kontribusi dalam masyarakat agar dapat hidup dengan layak.

Think CoW berhubungan dengan pengajaran 2 P (Purpose and Programming) ini. Think CoW menggunakan bidang Matematika sebagai alat untuk mengajarkan bagaimana siswa dapat merumuskan Tujuan dan kemudian melatih mereka untuk berpikir dalam mencapai tujuan tersebut.

Kemampuan 3 R maupun 2 P ini, tidak serta merta seorang anak dapat menguasainya secara mandiri, minimal perlu orang tua atau guru yang membimbing agar mereka menguasai pendidikan dasar yang relevan ini.

Perbedaan antara METRIS dan Think CoW secara Teknis adalah sebagai berikut:

1. METRIS adalah metode untuk ilmu hitung dasar (Aritmatika) sedang Think CoW adalah metode strategi berpikir Matematika khususnya diterapkan bidang Aljabar dan Geometri.

2. METRIS bertumpu pada konsep Asosiasi Posisi dalam menurunkan metodenya, sedangkan Think CoW bersandar pada Model Berpikir dalam menurunkan strategi untuk memecahkan problem Matematika.

Hubungan antara Metris dan Think CoW adalah bersifat saling melengkapi dalam bidang Matematika, masing-masing digunakan pada bidangnya sendiri-sendiri. Satu hal lagi pemisahan nama ini digunakan agar orang benar-benar tahu Perbedaan Bangunan Dasar dari keduanya, yang memang sama-sama diperlukan dalam mempelajari Matematika.

Model Berpikir Think CoW

Metode Think CoW menggunakan pendekatan ‘berpikir tersistem’ (systemic thinking) dalam membuat model berpikir di bidang Matematika. Berpikir tersistem (systemic thinking) artinya cara berpikir dengan mengenali ‘sistem berpikir’ itu sendiri bekerja ketika menghadapi problem, terutama yang berkaitan dengan Logika dan Matematika. Sistem berpikir yang digunakan itu sendiri tertuang dalam Model Berpikir Think CoW yang digambarkan dengan diagram di atas.

Secara garis besar Model Berpikir Think CoW menggambarkan Bagaimana proses MENGGUNAKAN dan MENGEMBANGKAN Pengetahuan (Knowledge). Proses ini dimulai dengan proses penetapan Tujuan (Goal) dan dilanjutkan dengan proses meraih tujuan tersebut dengan menggunakan Pengetahuan (Knowledge), baik yang telah dimiliki maupun yang belum dimiliki. Selanjutnya untuk mendapatkan Pengetahuan yang belum dimiliki, --yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan,-- dibutuhkan proses penalaran baik penalaran induktif (Inductive) maupun penalaran deduktif (Deductive). Penalaran itu sendiri adalah proses mendapatkan hubungan dari pengetahuan yang telah ada untuk mendapatkan pengetahuan yang baru.

Di dalam Model Berpikir Think CoW di atas yang diinspirasi oleh struktur otak manusia terdapat 4 (empat) Komponen Utama yang diwakili oleh warna tertentu, yaitu:

1. Goal (Tujuan)
Diwakili oleh warna Putih (white–Blank Sheet) merupakan komponen yang mengkontrol semua proses berpikir yang lain agar bekerja secara efektif dan efisien dalam mencapai Tujuan (Goal) yang telah ditetapkan.

2. Knowledge (Pengetahuan)
Diwakili oleh warna Biru (blue – Sky) merupakan komponen yang melingkupi semua pengetahuan (data, informasi, fakta, teori dsb) yang diperlukan dalam memecahkan problem yang dihadapi.

3. Inductive (Penalaran Induktif)
Diwakili oleh warna Hijau (green-Plant) merupakan komponen untuk melihat pola umum dari problem yang dihadapi. Komponen ini meliputi: melihat keseluruhan problem dan membuat pendekatan baru jika terbentur oleh kendala.

4. Deductive (Penalaran Deduktif)
Diwakili oleh warna Ungu (Purple-Indigo) merupakan komponen untuk memahami pola yang telah dikenali dan menurunkan jawaban terhadap problem yang dihadapi sesuai dengan pola tersebut. Komponen ini meliputi proses menganalisa pola yang dikenali, dan menurunkan jawaban berdasarkan pola tersebut.

Apakah itu Metode Think CoW ?

Think CoW : Strategi Berpikir Logis dan Kreatif dalam Matematika

Metode Think CoW berarti metode "berpikir" (Think) untuk mencapai "Cognitive Wow" (CoW). Think CoW merupakan Penerapan Sains Kognitif agar dapat Berpikir Logis dan Kreatif dalam bidang Matematika.


Tujuan Think CoW
Tujuan utama dari Think CoW adalah mengembangkan kemampuan untuk memecahkan problem (problem solving) yang berkaitan dengan Logika dan Matematika, yang seringkali didefinisikan sebagai `kemampuan berpikir Matematika' (mathematical thinking).

Problem Matematika yang dihadapi Think CoW
Bentuk Problem Matematika yang menjadi fokus dari Think CoW adalah Soal Cerita (Word Problem), karena dengan bentuk Soal Cerita ini dapat dijembatani antara problem dalam dunia nyata dan problem dalam Matematika, terutama dalam Permodelan Matematika. Bentuk Soal Cerita adalah bentuk problem matematika dimana informasi dalam problem tersebut disajikan dalam kata-kata, alih-alih daripada dalam Notasi Matematika.

Soal Cerita merupakan bentuk yang umum untuk melatih dan menguji pemahaman konsep-konsep matematika, alih-alih daripada hanya sekedar mengajarkan dan menguji prosedur manipulasi matematika. Sehingga diharapkan dengan Soal Cerita, matematika dapat dilihat dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari

Rabu, 01 Juni 2011

Lesson Study : Kekalahan AS, Belajar ke Jepang

Kekalahan tidak selalu berarti kehilangan segala-galanya. Kehilangan rasa peraya diri dan kehilangan akan masa depan. Kekalahan hanya menjadi bagian dari episode kehidupan yang harus dilewati. Untuk kemudian, memulai kembali sesuatu yang baru dan melanjutkannya menuju sebuah kemenangan.
Begitulah, kira-kira yang dialami oleh bangsa Jepang tatkala mengalami kekalahan total saat Perang Dunia (PD) II pada pertengahan abad ke-20. Seperempat abad kemudian, mereka mulai bangkit dari kekalahan. Dalam banyak hal, kini, Jepang telah mampu mengalahkan bangsa Amerika Serikat (AS) yang dulu mengalahkannya dalam perang. Jepang telah banyak mengalahkan Amerika Serikat, terutama dalam bidang industri elektronika dan otomotif.
Tak terkecuali, AS pun kalah dari Jepang dalam bidang pendidikan. Penyelenggaraan The Third International Mathematica and Science Study (TIMSS) pada tahun 1995, telah mengukuhkan kekalahan pendidikan AS dari Jepang. Bahkan, pendidikan AS tidak hanya kalah dari Jepang, tapi AS pun kalah dari 19 negara lainnya. Antara lain adalah negara Singapura, Perancis, Jerman, Kanada dan Australia.
TIMSS adalah sebuah studi internasional yang membandingkan hasil belajar Matematika dan IPA pada Kelas 8 (Kelas 2 SMP) pada sejumlah siswa yang berasal dari 41 negara di dunia. Hasil studi tersebut menyimpulkan bahwa skor rata-rata Matematika siswa AS lebih rendah dari siswa Jepang dan 19 negara lainnya. Skor rata-rata siswa AS hanya menang secara signifikan atas 7 negara lain seperti Lithuania, Siprus, Iran, Kolombia dan Afrika Selatan.
Kekalahan membuat rasa penasaran pada diri pengambil kebijakan bidang pendidikan di Amerika Serikat (AS). Maka, sejak saat itu mereka melakukan analisa mengenai kekalahannya. Mereka mengumpulkan sejumlah data dari berbagai negara yang telah mengalahkannya, termasuk sejumlah video rekaman langsung mengenai proses pembelajaran di sekolah-sekolah di Jepang dan Jerman. Lalu, mereka bandingkan dengan proses pembelajaran di sekolah-sekolah paman Sam sendiri.
Apa kesimpulannya ? Menurut mereka, “AS selalu melakukan perbaikan dan reformasi di bidang pendidikan. Namun, upaya itu tidak selalu meningkatkan mutu pembelajaran”. Masih menurut mereka sendiri, “ada satu hal yang tidak dimiliki oleh AS, sementara mereka (Jepang dan negara lainnya) telah memilikinya. Mereka telah memiliki sebuah sistem yang menjamin peningkatan mutu pembelajaran yang berlangsung secara terus-menerus dan berkelanjutan”.
Pengakuan kekalahan di bidang pendidikan mengharuskan AS untuk bersedia belajar secara langsung kepada Jepang. Di negara yang pernah dikalahkannya dalam Perang Dunia II itu, AS belajar tentang Jugyo Kenkyu yang telah dipraktekkan oleh para guru di sekolah-sekolah Jepang sejak puluhan tahun sebelumnya. Jugyo berarti Lesson dalam bahasa Inggris atau pembelajaran dalam bahasa Indonesia. Sementara Kenkyu berarti Study atau Reseacrh, yang berarti studi, pengkajian atau penelitian. Dengan demikian, maka Jugyo Kenkyu dapat diartikan sebagai  sebuah kegiatan studi, pengkajian atau penelitian mengenai pembelajaran. Secara singkat, biasanya Jugyo Kenkyu atau Lesson Study diartikan sebagai sebuah kegiatan pengkajian pembelajaran.
Melalui Jugyo Kenkyu, sejumlah guru di Jepang secara bersama-sama melakukan kegiatan perencanaan dan observasi pada proses pembelajaran di suatu sekolah. Seorang guru yang sedang mengajar di suatu kelas, di observasi oleh beberapa guru lainnya yang satu mata pelajaran atau sejenis. Mereka, bisa berasal dari sekolah yang sama atau dari sekolah yang berbeda. Tujuannya adalah mendapatkan berbagai masukan mengenai cara mengajar agar dapat memotivasi para siswa untuk dapat belajar aktif secara mandiri.  
Hasil dari kegiatan observasi itu, kemudian dibahas dan dianalisa di antara mereka sendiri. Sejumlah masalah selama kegiatan pembelajaran berlangsung, dikaji dari berbagai segi, termasuk berdasarkan pengalaman di antara para guru masing-masing. Mereka saling memberikan pendapat dan penilaian, sekaligus memberikan masukan atau solusi, bagaimana agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih baik.
Hasil dari kegiatan observasi, pengkajian dan pembahasan mengenai pembelajaran ini kemudian dijadikan sebagai masukan atau umpan balik bagi kegiatan pembelajaran berikutnya. Begitu seterusnya, mereka lakukan itu secara berkelanjutan. Sebuah sistem peningkatan mutu pembelajaran memang telah berlangsung secara terus-menerus, berangkat dari pengalaman para guru secara langsung.
Meskipun, pada awalnya kegiatan Jogyu Kenkyu hanya dilaksanakan secara terbatas di sekolah-sekolah tertentu, namun kemudian menjadi berkembang di sekolah-sekolah lainnya di Jepang secara sukrela. Mengapa ? Karena, sekolah-sekolah lain telah merasakan manfaat dari kegiatan Jogyu Kenkyu bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolah. Apalagi, sejak tahun 1970-an pemerintah Jepang kemudian memberikan dukungan penuh terhadap sekolah-sekolah agar menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Jogyu Kenkyu dianggap telah terbukti dapat meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah-sekolah di Jepang. Amerika Serikat (AS) pun tak malu-malu untuk belajar dan menirunya. Kini, hampir di sekolah-sekolah di AS telah menerapkan model kegiatan Jogyu Kenkyu, yang kemudian kini lebih dikenal sebagai Lesson Study.
Dan, sejak tahun 1998, Indonesia pun mulai ikut belajar mengenai Lesson Study kepada Jepang.  Saat ini, program Lesson Study masih terus disosialisasikan dan dikembangkan di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Mengapa ? Karena, Lesson Study telah diyakini sangat potensial untuk meningkatkan mutu pembelajaran, meningkatkan mutu profesionalitas pendidik atau guru, dan selanjutnya berdampak pada peningkatan mutu pendidikan. ***
(Oleh Sri Endang S.)

Kemendiknas Ubah Kurikulum Pendidikan


JAKARTA – Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) sedang menyiapkan perubahan kurikulum pendidikan untuk memperkuat jiwa nasionalisme para peserta didik.

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, saat ini kurikulum pendidikan diserahkan ke sekolah dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Namun, setelah dilakukan evaluasi ada beberapa hal yang dinilai tidak tepat, terutama terkait kurikulum penguatan nasionalisme.
“Kita harus perkuat nasionalisme dan tidak mengabaikan aspek kebersamaan secara nasional sehingga metodologi dan materi (empat mata pelajaran) akan ditata kembali,” katanya di Gedung Kemendiknas kemarin.

Mohammad Nuh mengungkapkan, ada empat mata pelajaran kurikulum yang akan ditentukan yakni Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Sementara yang lain seperti Bahasa Inggris, Geografi, Sejarah, Seni, dan Budaya tetap menjadi kewenangan sekolah untuk mengembangkannya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, perubahan ini terkait dinamika yang ada di masyarakat. Jika tidak ada perubahan, dikhawatirkan tidak ada relevansi dalam kurikulum. Mantan Rektor ITS ini menambahkan, kurikulum baru ini akan diterapkan paling lambat pada 2012. Pembuatan kurikulum baru membutuhkan sosialisasi, pelatihan bagi guru, dan metode evaluasi yang harus dibuat agar kurikulumnya sempurna. “Dulu ada namanya CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), berbasis kompetensi, KTSP, dan nanti mungkin namanya KTSP disempurnakan,” imbuhnya.

Berdasarkan data, sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,setiap sekolah mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) dan berpedoman pada panduan yang ditetapkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Anggota Komisi X DPR Ferdiansyah mendukung tinjauan ulang kurikulum tersebut. Hal itu juga usulannya kepada pemerintah sejak Bambang Sudibyo menjabat mendiknas. Namun, agar tidak kerja dua kali dan efektif, selagi penyusunan kurikulum Kemendiknas harus merevisi PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan. Dalam PP tersebut pembagian struktur kurikulumnya tidak jelas. Selain itu juga memudahkan ada pembuatan PP untuk kurikulum tersebut. (neneng zubaidah/sindo)(//rfa)

Jadi Kepala Sekolah, Guru Harus Pegang Sertifikat LP2KS


REPUBLIKA.CO.ID, SOLO - Peningkatan mutu pendidikan nasional selanjutnya akan memasuki tahap baru, dan telah dimulai setahun ini. Kualitas anak didik yang ditentukan tenaga pendidik atau guru, juga ditentukan oleh kualitas kepala sekolah. Karena itu, calon kepala sekolah harus memiliki sertifikasi yang layak untuk menjadi pemimpin lembaga pendidik tersebut.

Untuk melakukan sertifikasi calon kepala sekolah, Kementerian Pendidikan Nasional telah membentuk dan menunjuk Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah atau LP2KS sesuai Permendiknas No. 6 Tahun 2009. Hal utama yang setahun ini dilakukan LP2KS, yang dinyatakan Direktur LP2KS Siswandari, adalah melakukan penyiapan calon kepala sekolah."Kami melakukan seleksi administrasi dan akademik demi mencetak calon kepala sekolah yang akan memiliki nomor unik dalam sertifikatnya," papar Siswandari. Nomor yang dimaksud adalah Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang diberikan kepada guru formal maupun nonformal.

Pensertifikasian dilakukan LP2KS kepada guru sesuai Permendiknas No. 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah/Madrasah. Dijelaskan Siswandari -- yang juga Guru Besar Fakultas Ilmu Kependidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) -- sertifikasi ini berupa penawaran kepada seluruh kepala daerah kabupaten/kota se-Indonesia. LP2KS mensyaratkan, yang didaftarkan adalah guru potensial, bersedia membiayai diklat calon kepala sekolah dan guru yang meraih serifikasi LP2KS akan ditempatkan sebagai kepala sekolah sesuai posisi yang ada di daerah tersebut.

Sebagai pilot project, LP2KS telah melakukan Program Penyiapan Kepala Sekolah di Jawa Timur. Dari 20 calon kepala sekolah yang diajukan, hanya 18 yang lolos seleksi administrasi dan berkurang menjadi delapan orang guru yang lolos pada tahap seleksi akademik. Untuk seleksi adminstrasi, Pasal 2 ayat (2) Permendiknas No. 28/2010 mensyaratkan calon kepala sekolah minimal memegang gelar Strata 1, usia maksimal 56 tahun dan pengalaman minimal 5 tahun sebagai pendidik atau tenaga pendidik.

Sementara untuk seleksi akademik, penilaian dilakukan melalui potensi kepemimpinan. Potensi kepemimpinan calon kepsek didapatkan melalui rekomendasi kepsek yang menjabat saat dikirim, penilaian kinerja guru, menyusun makalah kepemimpinan dan mempresentasikannya di hadapan lembaga penilai nasional dengan syarat minimal kelulusan memuaskan. Setelah berhasil lolos kedua seleksi tadi, calon kepsek akan mendapatkan pelatihan yang dilakukan LP2KS melalui serangkai pembelajaran.

Selama 70 jam pelajaran (JP) atau 7 hari, calon kepsek akan mendapatkan materi mengenai manajerial, supervisi dan pelatihan kewirausahaan, kepribadian, dan sosial. Lalu dilanjutkan on the job learning (OJL) dengan 200 JP atau 3 bulan untuk materi implementasi rencana tindakan kepemimpinan dan flexible learning.

Dan selanjutkan 30 JP atau 30 hari untuk penilaian portofolio hasil OJL selama 3 bulan tadi dengan mempresentasikannya. "Saat OJL, calon guru akan 150 jam pelajaran mengajar di sekolah asalnya dan 50 jam pelajaran sisanya di sekolah lain," tambah Kepala Seksi Peningkatan Kompetensi LP2KS, Abdul Kamil Marisi.

Pada 21-24 Februari kemarin, LP2KS telah melakukan piloting Program Penyiapan Kepsek di lima kabupaten/kota di Kalimantan, yaitu Kotabaru, Banjarmasin, Kotawaringin Barat, singkawang dan Kutai Kertanegara. Dan April nanti akan dilanjutkan pada 15 kabupaten/kota mulai dari Aceh hingga Jeneponto di sulawesi Selatan.